Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki Al-Kajangi
Dua hari terakhir, mata dunia tertuju pada dua panggung besar.
Pertama, pesta sepak bola sedunia yang digelar di tiga negara: Amerika, Kanada, dan Meksiko. Kedua, meja perundingan, tentu dengan sejuta harapan, kiranya Amerika dan Iran menuju perdamaian sejati. Dua peristiwa yang sama-sama tak lepas dari ulah pemerintahan Donald Trump, yang menyebalkan dunia.
Arogansi di Pesta Dunia FIFA
Di Piala Dunia, Amerika membuat kebijakan yang tak populer, bahkan arogan. Tim Iran tak diizinkan tinggal di AS sepanjang turnamen, padahal mereka main di sana. Akibatnya mereka harus bolak-balik Los Angeles–Mexico City tiap laga. Hal yang tidak fair karena cukup melelahkan bagi tim Iran yang harusnya perlu istirahat yang cukup.
Selain itu, ketua federasi sepak bola Palestina dan beberapa delegasi lain dicegah masuk masuk Amerika untuk menghadiri perhelatan akbar FIFA ini. Bahkan wasit terbaik FIFA, hanya karena paspor Somalia, dideportasi.
Yang paling menyakitkan adalah diamnya Presiden FIFA. Seolah tak punya suara untuk membela anggota, pemain, bahkan wasit terbaiknya. Padahal FIFA harusnya rumah bagi semua bangsa.
Sikap ganda ini makin terekspos dengan diboikotnya Rusia karena dianggap “melanggar hukum internasional” di Ukraina. Sementara Israel dibiarkan berlaga, padahal dunia tahu Israel adalah penjajah dan pelaku genosida di Gaza. Perdana Menterinya pun sudah ditetapkan Mahkamah Internasional sebagai terdakwa kejahatan perang.
Benturan Romawi–Persia di Era Modern
Konflik Iran–Amerika dengan provokasi jahat Israel ini mengingatkan saya pada perang panjang antara Kerajaan Romawi vs Kerajaan Persia masa dahulu yang diabadikan Allah di awal Surah Ar-Rum. Dua kerajaan itu adalah adidaya pada masanya. Dalam perang panjang itu mereka silih berganti menang dan kalah.
Hari ini sejarah nyaris berulang. Barat diwakili Amerika yang dengan segala kekurangannya dijuluki negara super power. Sementara Iran, yang merupakan nama modern Persia, adalah bangsa besar dengan sumber daya manusia dan alam yang dahsyat. Tentu yang paling penting adalah modal keimanan dan harga diri yang tak mudah goyah.
Jika Rasulullah ketika itu cenderung berpihak pada Romawi karena mereka Ahlul Kitab. Kini umat Islam harusnya berpihak pada Iran, bukan semata karena agama, tapi karena keadilan. Siapa pun yang berakal sehat dan memiliki hati nurani akan melihat jika Iran berada di posisi terzhalimi. Dan Islam yang berkarakter “shidqan wa ‘adlan” (jujur dan adil) mengharuskan umat ini berdiri bersama dan membela yang tertindas dan melawan arogansi.
Dalih Nuklir, Realita Kemunafikan
Iran sudah lama dizhalimi dengan dalih “pengayaan uranium dan ancaman nuklir”. Padahal semua juga tahu jika Israel adalah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di Timur Tengah. Dunia seharusnya lebih mengkhawatirkan Israeli, dan bukan Iran. Tapi itulah bentuk kemunafikan yang dipertontonkan tanpa malu.
Karena alasan nuklir inilah AS–Israel berulang kali menyerang Iran, menewaskan pemimpin, ilmuwan, bahkan rakyat sipil. Beberapa waktu lalu Amerika menyerang pusat nuklir Iran. Ketika itu Donald Trump bahkan dengan bangga mendekkarasikan “ penghancuran total program nuklir Iran”. Anehnya beberapa bulan kemudian, atas alasan yang sama, Amerika-Israel menyerang lagi, dan tragisnya menewaskan hampir 200 anak-anak wanita dan rakyat sipil lainnya.
Dampak Ekonomi Dunia.
Konflik Amerika-Israel dengan Iran ini menjadikan perekonomian dunia goncang secara dahsyat. Harga minyak melambung. Penutupan Selat Hormuz menggoyang pasar global, termasuk Amerika sendiri. AS sendiri telah menghabiskan lebih 50 miliar USD untuk perang sia-sia ini.
Sementara itu Iran tetap tegap dan solid. Iran membuktikan jika negara itu punya kekuatan dan jangan dipandang remeh. Iran mampu menangkal serangan Amerika dan membalas serangan Israel. Realita ini memaksa Amerika kembali ke meja perundingan.
Maka setelah 4-5 bulan konflik dan dengan dimediasi oleh Pakistan & Qatar upaya pertama dilangsungkan di Islamabad. Namun kandas di tengah jalan karena Israel terus menggempur Libanon yang dipersyaratkan oleh Iran untuk dihentikan. Sementara itu Amerika dan dunia terus merasakan dampak ekonomi yang semakin berat.
Maka Amerika kembali dipaksa untuk maju ke meja perundingan. Upaya kedua dilangsungkan di Swiss dengan mediator yang sama, Pakistan dan Qatar. Juga hampir kandas karena Israel terus menggempur Lebanon Selatan, sengaja ingin menggagalkan upaya perdamaian ini.
Israel bahkan menghalangi Trump menandatangani MoU 60 hari menuju kesepakatan akhir. Sikap itu alhirnya semakin menyadarkan AS dan Trump tentang siapa sesungguhnya biang kerok “syetan” sebenarnya dari konflik global ini. Trump pun sempat bersitegang dengan “Netanyahu”. Entah itu benar atau sekedar drama, yang pasti tradisi “berserah diri” Amerika mulai berubah. Trump berani mengatakan: jika Israel tetap dengan sikapnya menyerang Libanon maka akan ditinggalkan sendirian.
Di pihak lain Iran datang dengan kepala tegak, kemuliaan harga diri (izzah) dan keyakinan pada kebenaran dan keadilan. Ketika perundingan akan terlangsung dan Trump masih saja melontar ancaman dan arogansi, delegasi Iran tanpa ragu keluar dari ruangan pertemuan. Sikap tegas Iran ini cukup mempermalukan delegasi AS yang dipimpin Wapres JD Vance.
Akhirnya pertemuan itu juga terjadi. Kesepakatan atau MoU menuju kesepakatan permanen dalam masa 60 hari disetujui. Di antara isinya: Selat Hormuz dibuka kembali. Aset Iran yang selama dibekukan dikembalikan. Dan AS setuju membayar 300 miliar USD ganti rugi kerusakan serangannya ke Iran.
Salah satu Klausul yang cukup rumit dari MoU itu adalah penghentian serangan & penarikan pasukan Israel dari Lebanon. Klausul ini rumit dan sensitif karena Israel berusaha menghalangi bahkan boleh jadi akan sengaja melanggar sehingga Perjanjian Perdamaian itu kembali bubar.
Jika itu terjadi maka itu hanya akan semakin menelanjangi: bahwa “syetan” sesungguhnya dari konflik ini memang Zionis Israel.
Akhirnya, saya hanya ingin menyampaikan penghormatan dan apresiasi ke Iran. Harapan saya, setelah konflik ini berakhri, jangan berhenti. Bangun terus kekuatan bersama dunia Islam. Saya yakin dunia Islam, khususnya negara-negara Timur Tengah semakin sadar bahwa solusi dari berbagai permasalahan ada pada persatuan dan kebersamaan dunia Islam. Bukan pada harapan perlindungan dari pihak lain, termasuk Amerika.
Dan yang tak kalah pentingnya hendaknya jangan lupa, sebelum Palestina dan Masjid Al-Aqsa dibebaskan dari penjajahan Zionis, selama itu pula kata “damai” hanya menjadi slogan hambar yang hampir tanpa makna.
Terima kasih Iran! Anda telah membuktikan bahwa iman dan harga diri adalah kekuatan dan modal terbesar menuju kemenangan.
New York, 21 Juni 2026
