Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

Ketgam: ​"Kebenaran (Al-Haqq) tidak akan pernah tertukar, dan Allah SWT telah menjamin kemenangannya." 🌌✨

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki

Pada catatan sebelumnya telah saya sampaikan: sebuah kenyataan yang tak bisa disangkal bahwa Islam justru tumbuh dan menguat di tengah tekanan yang berat. Sejak peristiwa 11 September, bahkan jauh sebelumnya, hingga kini di bawah kepresidenan Donald Trump, Islam memang berusaha dihalangi secara sistematis. Jika bisa dihentikan, maka akan dihentikan. Tapi seperti yang sering saya ulang: Islam boleh dipersulit, boleh dibatasi ruangnya, tapi Islam tidak akan pernah terhenti. Itu fakta sejarah.

Lalu bagaimana seharusnya sikap Komunitas Muslim agar momentum ini tidak lepas? Tentu tidak mudah. Semakin Islam berkembang, semakin besar pula kekhawatiran yang lahir. Kecemasan itu berbalik menjadi kebencian. Itulah yang kita kenal hari ini sebagai “Islamophobia”, fenomena yang akan terus ada hingga akhir zaman.

Karena itu, Komunitas Muslim perlu mengambil langkah nyata. Di satu sisi, menjaga momentum kebangkitan yang menggembirakan ini. Di sisi lain, meredam dampak negatif Islamophobia di ruang publik. Sekali lagi: bukan untuk menghapus Islamophobia, karena itu mustahil. Tapi untuk menepis dan memperkecil luka yang ditimbulkannya di tengah masyarakat luas.

Urgensi Hijrah

Karena kita sedang berada di gerbang tahun baru Hijriyah, izinkan saya memulai dengan ini: pentingnya menghidupkan kembali semangat hijrah. Hijrah adalah fondasi kebangkitan umat secara kolektif. Melalui hijrah, Rasulullah (SAW) berhasil membangun peradaban Madinah. Dan dalam hitungan tahun saja, beliau menghancurkan peradaban berhala serta menaklukkan kembali tanah kelahiran, Makkah al-Mukarramah.

Semangat hijrah menjadi sangat relevan bagi Muslim di Amerika dan Barat. Mengapa? Karena 65-70% Muslim di negara-negara ini masih berstatus imigran. Mereka datang dari berbagai penjuru: Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika. Di New York misalnya, warna komunitasnya sangat beragam.

Sebagai pendatang di negeri yang baru dan berbeda, penyesuaian pasti dibutuhkan. Bukan penyesuaian pada prinsip akidah, ibadah, atau nilai moral universal. Tapi penyesuaian dalam urusan muamalah dan kehidupan sosial. Islam memang berkarakter “al-murunah”: lentur, fleksibel, bijak.

Saya tidak akan merinci bentuk penyesuaiannya. Tapi satu hal mendasar: Komunitas Muslim harus melakukan “transformasi mental”. Berubah dari mental “tamu” menjadi mental “tuan rumah”. Ini penting, karena salah satu senjata untuk melemahkan Muslim di Barat adalah narasi: “kalian pendatang, kalian tamu”. Padahal kecuali penduduk asli, semua warga Amerika adalah pendatang. Termasuk Donald Trump sendiri.

Mental tamu melahirkan rasa malu, takut, dan lemah. Ujungnya: apatis. Tidak peduli politik, tidak ikut proses publik. Datang, bekerja, dapat penghasilan, selesai. Lalu hanya bisa mengeluh saat pemimpin yang terpilih tak sesuai harapan.

Menjaga Fondasi yang Kokoh

Ketika Allah memerintahkan Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah, tujuannya jelas: memastikan fondasi kehidupan berpijak pasti. Fondasi itu adalah iman dan Islam.

Untuk menjaga momentum kebangkitan Islam di Barat, termasuk Amerika, Komunitas Muslim harus menjaga keimanan dan keislaman dengan sungguh-sungguh. Tanpa iman dan Islam, keberhasilan apa pun akan rapuh.

Di dunia dakwah, ini sering terjadi dan sangat memprihatinkan. Ada yang semangat membela Islam di mimbar, tapi lalai pada Islam di rumahnya sendiri. Wajar jika banyak warga Amerika yang memeluk Islam (revert), tapi tak sedikit pula anak-anak Muslim yang “hilang”. Hilang maknanya: tidak lagi menjadikan agama sebagai jalan hidup. Islam tinggal nama dan budaya. Bahkan ada yang malu menunjukkan identitas Muslimnya.

Mungkin inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya: “Jika kalian berpaling, Allah akan mendatangkan kaum yang Allah cintai dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54)

Ada yang mengatakan, benar tidaknya hanya Allah yang tahu, jumlah warga Amerika yang masuk Islam sebanding dengan Muslim yang meninggalkan agamanya. Saya tidak sepenuhnya percaya angka itu. Tapi realitanya terasa. Masjid-masjid tumbuh di mana-mana, tapi jamaahnya didominasi wajah-wajah sepuh generasi pertama. Para pensiunan yang tak lagi banyak berperan dalam menentukan arah publik.

Di sinilah pentingnya menjaga fondasi di tengah perkembangan Islam yang tak terbendung. Komunitas Muslim, khususnya para imigran, harus memastikan anak-anak dan generasi mereka tetap dalam hidayah iman dan Islam. Bahkan berharap merekalah yang akan meneruskan perjuangan dakwah untuk masa depan yang lebih cerah.

Saya teringat saat 11 September 2001. Kerapuhan iman mengguncang sendi komunitas. Banyak anak muda terseret arus. Tidak hanya menyembunyikan identitas Muslim, tapi ikut marah pada agama dan umatnya yang dituduh sebagai pelaku teror.

Saya masih ingat, pernah diundang berceramah di Stuyvesant HS, salah satu SMA unggulan di Kota New York. Usai ceramah, seorang siswi berpenampilan sangat terbuka, berambut pirang, menghampiri saya dan berkata: “I am embarrassed to be a Muslim.” Saya tanya: “Are you a Muslim?” Jawabnya: “Yes, my parents are Egyptians.”

Saya tak melanjutkan dialog itu. Tapi itulah salah satu peristiwa memilukan. Anak-anak Muslim malu, bahkan marah pada agamanya karena dianggap sumber kejahatan dan terorisme. Ini tidak lepas dari kelalaian orang tua menjaga fondasi iman di rumah.

Maka di saat banyak orang memeluk Islam dengan bangga dan menjadi pejuang dakwah dan pembela agama, sebagian anak Muslim justru pergi, malu, bahkan menjadi pecundang bagi agamanya sendiri.

Lalu apa lagi yang harus dilakukan agar momentum kebangkitan ini terjaga? 


Tunggu lanjutan catatannya! 

Manhattan, 17 Juni 2026

Lebih baru Lebih lama

Translate

googel tags

نموذج الاتصال

BADAN HUKUM
BADAN HUKUM PT. ILYASA PRATAMA MEDIA, IZIN KEMENKUMHAM: AHU-018493.AH.01.30.Tahun 2022, NOMOR INDUK BERUSAHA (NIB): 2505220049434, REG ID DEWAN PERS: 24123
//") //]]>