Oleh: Gunawan Adji*
Selama beberapa tahun terakhir, hilirisasi batu bara di
Indonesia hampir identik dengan pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai
pengganti LPG. Kebijakan tersebut lahir dari keinginan mengurangi
ketergantungan impor LPG yang setiap tahun membebani neraca perdagangan dan
anggaran negara. Namun berbagai hambatan yang muncul—mulai dari tingginya
kebutuhan investasi, tantangan keekonomian proyek, hingga mundurnya investor
strategis—menunjukkan bahwa hilirisasi batu bara memerlukan pendekatan yang lebih
komprehensif.
Pelajaran penting dari pengalaman tersebut adalah bahwa yang
perlu dievaluasi bukanlah teknologi gasifikasi batu bara, melainkan arah
hilirisasinya. Selama ini Indonesia terlalu berfokus pada satu produk akhir,
yaitu DME, padahal gasifikasi batu bara sesungguhnya menghasilkan syngas
(synthetic gas), yaitu campuran hidrogen (H₂) dan karbon monoksida (CO) yang
menjadi bahan baku berbagai industri modern.
Syngas bukan sekadar gas hasil proses, melainkan platform
industri. Dari syngas dapat diproduksi amonia untuk pupuk, metanol, hidrogen,
bahan bakar sintetis, petrokimia, hingga DME. Dengan kata lain, setiap pabrik
DME membutuhkan syngas, tetapi tidak setiap syngas harus diubah menjadi DME.
Perbedaan inilah yang membedakan paradigma lama dan paradigma baru hilirisasi.
Secara ekonomi, pendekatan berbasis syngas juga menawarkan
keunggulan. Jalur batu bara–syngas hanya memerlukan proses gasifikasi dan
pemurnian sebelum digunakan langsung oleh industri. Sebaliknya, jalur batu
bara–DME membutuhkan tahapan tambahan berupa sintesis, pemurnian, penyimpanan,
dan distribusi. Konsekuensinya, investasi menjadi lebih besar dan kehilangan
energi selama proses konversi juga meningkat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa
efisiensi energi pemanfaatan syngas secara langsung umumnya berada pada kisaran
70–85 persen, sedangkan jalur batu bara menjadi DME berada pada kisaran 50–65
persen, bergantung pada teknologi dan skala pabrik.
Perbedaan tersebut bukan berarti DME tidak penting.
Sebaliknya, DME tetap memiliki nilai strategis sebagai substitusi LPG impor.
Namun jika seluruh strategi hilirisasi hanya bertumpu pada satu produk, maka
risiko bisnis menjadi lebih tinggi. Ketika harga LPG dunia turun atau biaya
produksi meningkat, proyek DME akan menghadapi tekanan keekonomian yang besar.
Sebaliknya, syngas memberikan fleksibilitas yang jauh lebih
tinggi. Gas hasil gasifikasi dapat dialirkan langsung ke industri pupuk,
metanol, baja, petrokimia, maupun hidrogen. Jika pada masa depan kebutuhan DME
meningkat, syngas yang sama tetap dapat dikonversi menjadi DME. Dengan
demikian, investasi pada syngas menciptakan banyak pilihan, bukan hanya satu
produk.
Pengalaman dari negara lain memperlihatkan arah tersebut.
China merupakan contoh paling berhasil dalam hilirisasi batu
bara. Negara ini tidak menjadikan DME sebagai tujuan utama. Yang dibangun
terlebih dahulu adalah industri gasifikasi batu bara dalam skala besar. Syngas
kemudian dimanfaatkan untuk memproduksi metanol, amonia, olefin, hidrogen,
bahan bakar sintetis, hingga DME sesuai kebutuhan pasar. Pendekatan ini membuat
satu fasilitas gasifikasi mampu memasok berbagai industri sekaligus sehingga
lebih tahan terhadap perubahan harga komoditas.
Di Afrika Selatan, perusahaan Sasol telah membuktikan selama
puluhan tahun bahwa syngas mampu menjadi fondasi industrialisasi. Dari syngas
dihasilkan bensin sintetis, diesel sintetis, LPG, pelumas, petrokimia, dan
berbagai bahan kimia bernilai tinggi. Batu bara tidak lagi diperlakukan sebagai
komoditas ekspor semata, tetapi sebagai bahan baku industri nasional.
Sementara itu India melalui program nasional gasifikasi batu
bara juga mulai mengarahkan syngas untuk memproduksi metanol, amonia, hidrogen,
dan bahan kimia. Tujuannya bukan hanya mengurangi impor energi, tetapi juga
membangun industri berbasis sumber daya domestik yang memiliki nilai tambah
tinggi.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah
besar. Cadangan batu bara kalori rendah yang selama ini kurang diminati pasar
justru sangat sesuai untuk gasifikasi. Apabila dibangun kawasan industri di
sekitar wilayah tambang, syngas dapat langsung dimanfaatkan oleh industri
pupuk, petrokimia, baja, maupun industri kimia lainnya tanpa melalui tahapan
konversi tambahan yang mahal. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi
energi, tetapi juga memperluas kesempatan investasi, menciptakan lapangan
kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional.
Indonesia tampaknya terlalu cepat memilih satu produk hilir,
yaitu DME, padahal pengalaman China, Afrika Selatan, dan India menunjukkan
bahwa keberhasilan hilirisasi bukan terletak pada memilih satu produk,
melainkan membangun Platform Industri Syngas yang mampu menghasilkan banyak
produk sesuai kebutuhan pasar. DME tetap penting, tetapi seharusnya diposisikan
sebagai salah satu produk dari platform tersebut, bukan satu-satunya tujuan
hilirisasi.
Indonesia mungkin terlalu cepat menetapkan DME sebagai tujuan
akhir, padahal syngas justru merupakan fondasi industrialisasi yang lebih
fleksibel dan berdaya saing. Dari satu platform dapat lahir berbagai produk
strategis sesuai dinamika pasar, sehingga risiko usaha menjadi lebih kecil dan
nilai tambah ekonomi menjadi lebih besar.
Sudah saatnya Indonesia menggeser paradigma, dari membangun
pabrik DME menuju membangun Platform Industri Syngas. Inilah lompatan strategis
yang dapat mengubah batu bara dari sekadar komoditas tambang menjadi fondasi
kebangkitan industri nasional.
Akhirnya, kalimat berikut patut dipertimbangkan:
Jangan membangun satu pabrik DME. Bangunlah Platform
Industri Syngas. Dari satu platform, Indonesia dapat melahirkan banyak
industri.
GA-Library, 0907'26
Kolom oleh Gunawan Adji, Ir., Ph.D.*)
*)-Wk. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Insinyur
Indonesia 2024 – 2027/-Konsultan Governance, Risk & Compliance
(GRC)/-Alumni Teknik Kimia ITS
