Jakarta || KasuariTV - Seminar Diplomat Dialogue #3 yang dilaksanakan pada 24 Juni 2026 di Universitas Jayabaya mengangkat tema “A Multipolar World, Iran-Israel-US War, and Global Security: Survival Guide for Indonesian Youth” dengan menghadirkan H.E. Drs. Iwan Wiranataatmadja sebagai narasumber. Seminar ini membahas perubahan tatanan dunia menuju sistem multipolar, konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, serta dampaknya terhadap keamanan global. Materi tersebut relevan untuk dianalisis dari perspektif Asia Timur karena kawasan ini memiliki peran penting dalam ekonomi, teknologi, dan keamanan internasional.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah perubahan dari sistem unipolar menuju multipolar. Dalam sistem multipolar, kekuatan dunia tidak lagi terpusat pada satu negara, tetapi tersebar pada beberapa negara besar yang memiliki pengaruh dalam politik, ekonomi, dan keamanan internasional. Perubahan ini membuat hubungan internasional menjadi lebih kompleks dan mendorong negara-negara untuk menyesuaikan strategi politik luar negeri mereka. Selain itu, dunia multipolar juga menciptakan peluang bagi negara-negara untuk memperluas kerja sama dengan berbagai pihak sesuai kepentingan nasional masing-masing.
Dari perspektif Tiongkok, dunia multipolar merupakan perkembangan yang menguntungkan karena membuka peluang bagi Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya di tingkat global. Dalam konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, Tiongkok berkepentingan menjaga stabilitas Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan sumber energi penting bagi perekonomiannya. Oleh karena itu, Tiongkok cenderung mendukung penyelesaian konflik melalui diplomasi dan dialog guna menjaga stabilitas kawasan dan kepentingan ekonominya.
Sementara itu, Jepang memandang konflik tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan energi dan stabilitas ekonomi. Ketergantungan Jepang terhadap impor minyak dan gas dari Timur Tengah membuat stabilitas kawasan menjadi kepentingan yang sangat penting. Karena itu, Jepang lebih mendukung penyelesaian konflik secara damai melalui kerja sama internasional dan diplomasi untuk menjaga keamanan serta kelancaran perdagangan global.
Pandangan yang hampir sama dimiliki oleh Korea Selatan. Sebagai negara yang bergantung pada perdagangan internasional dan impor energi, Korea Selatan membutuhkan kondisi global yang stabil. Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok internasional dan meningkatkan harga energi, sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonominya. Oleh sebab itu, Korea Selatan memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas dan perdamaian internasional.
Selain konflik geopolitik, seminar juga membahas perkembangan perang modern yang melibatkan drone, Artificial Intelligence (AI), dan perang siber. Isu ini menjadi perhatian penting bagi negara-negara Asia Timur karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat perkembangan teknologi dunia. Keamanan digital kini menjadi bagian penting dari keamanan nasional, sehingga negara-negara di kawasan ini terus meningkatkan kemampuan teknologi dan perlindungan terhadap infrastruktur digital mereka. Materi seminar juga menunjukkan bahwa konflik internasional pada era modern tidak lagi hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga melibatkan aspek ekonomi, teknologi, dan informasi. Negara-negara Asia Timur menyadari bahwa stabilitas global sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan keamanan nasional mereka. Oleh karena itu, kawasan ini terus berupaya memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan kemampuan teknologi, serta menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai negara guna menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks.
Bagi Indonesia, materi seminar ini menunjukkan pentingnya memperkuat diplomasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi dunia multipolar. Pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global, penguasaan teknologi, dan kualitas pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan daya saing suatu negara. Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan menuju dunia multipolar serta konflik Iran–Israel–Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada Timur
Tengah, tetapi juga memengaruhi negara-negara Asia Timur. Perspektif Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan menunjukkan bahwa stabilitas politik, keamanan energi, perkembangan teknologi, dan diplomasi merupakan faktor penting dalam menghadapi tantangan global saat ini. Oleh karena itu, kerja sama internasional dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan geopolitik menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan kepentingan nasional masing-masing negara. ( Oleh : Silvia Magdalena Siburian [2024350750011] FISIP HI Jayabaya)
