Transformasi Tatanan Unipolar Menuju Multipolaritas Global: Reorientasi Strategi Keamanan Komprehensif dan Peperangan Multi-Domain dalam Perspektif Asia Timur

 

Diplomat Dialogue ke-3 di Jayabaya


Jakarta, KASTV- Acara "Diplomat Dialogue 3" Hari Rabu, tanggal 24 juni 2026 di Universitas Jayabaya makin memperjelas fenomena pergeseran kekuasaan di negara-negara kuat Dunia dipicu oleh akumulasi kebangkitan ekonomi Tiongkok, penguatan posisi tawar negara-negara Global South, serta diversifikasi ekonomi global melalui kelompok seperti BRICS. 

Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jayabaya, menggelar event Diplomat Dialogue "A Multipolar World, Iran-Israel-US War, and Global Security : Survival Guide for Indonesian Youth", pada Hari Rabu (24/6/2026), mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai bertempat di Ruang Seminar 1 Prof. Hj. Yuyun Moeslim Taher S.H., M.H, Lantai 5, Gedung Rektorat, Kampus A, Universitas Jayabaya.

Acara Diplomat Dialog ini menghadirkan Speaker H.E. Drs. Iwan Wiranataatmadja, yang merupakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Islam Iran; Republik Azerbaijan; Republik Turkmenistan (tahun 2008-2011).

Kemudian Moderator dalam Diplomat Dialog ini yaitu Farah Nur Zalfa, S.Sos., yang juga Lulusan Terbaik Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jayabaya.


Perspektif dari kawasan Asia Timur mempertegas dinamika ini; bagi Tiongkok, multipolaritas adalah validasi atas visi global mereka, sementara bagi Jepang dan Korea Selatan, pudarnya unipolaritas AS memicu kecemasan akan adanya kekosongan kekuasaan (power vacuum) di Indo-Pasifik. Di tengah transisi ini, konflik Iran-Israel-Amerika Serikat di Timur Tengah tidak lagi sekadar sengketa regional, melainkan manifestasi nyata dari pergeseran kekuatan global di mana konfrontasi langsung kini menggantikan perang proksi (proxy conflict), membawa risiko salah perhitungan (miscalculation) yang sangat tinggi bagi stabilitas dunia.

Ketua Yayasan Jayabaya drg. H. Moestar Putrajaya, M.H., FICD., bersama narasumber Diplomat Dialogue H.E. Drs. Iwan Wiranataatmadja, yang merupakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Islam Iran; Republik Azerbaijan; Republik Turkmenistan (tahun 2008-2011).



Geopolitik Global

Ketegangan geopolitik global ini diperparah oleh perubahan fundamental karakter peperangan abad ke-21 melalui konsep Multi-Domain Operations (MDO), di mana perang kini mengintegrasikan ruang siber, luar angkasa, dan ruang kognitif masyarakat secara simultan.

Penggunaan teknologi presisi seperti drone bersenjata, rudal jarak jauh, dan Kecerdasan Buatan (AI) telah mendemokratisasi kekuatan militer, memungkinkan tekanan asimetris terhadap kekuatan konvensional yang lebih besar. Asia Timur, sebagai pusat inovasi teknologi global, merespons perubahan ini secara intensif melalui perlombaan senjata teknologi tinggi, terutama dalam perlindungan infrastruktur digital dari serangan siber dan pemanfaatan AI militer. 

Realitas perang modern ini melahirkan ancaman komprehensif yang saling berkelindan, mulai dari kerentanan keamanan energi di Selat Hormuz sebagai maritime chokepoint vital, gangguan keamanan pangan akibat lonjakan biaya logistik, hingga perang informasi berbasis disinformasi yang mampu memicu polarisasi politik internal di berbagai negara.

Pada aras ekonomi global, ketidakpastian ini mendorong terjadinya fragmentasi rantai pasok global dan adopsi strategi ketahanan baru seperti de-risking dan friend-shoring. Bagi raksasa industri di Asia Timur yang menguasai pasar semikonduktor dunia tekanan geopolitik memaksa terjadinya pemisahan (decoupling) teknologi, yang kemudian mendorong mereka untuk mendiversifikasi lokasi produksi ke kawasan yang lebih aman. Di sinilah Indonesia memegang peranan strategis; di tengah pusaran multipolar ini, Indonesia harus menerjemahkan politik luar negeri bebas aktif menjadi Strategic Autonomy, yaitu kemampuan untuk bekerja sama secara fleksibel dengan berbagai poros kekuatan (AS, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, ASEAN) tanpa kehilangan independensi nasional. 

Guna menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu memperkuat empat pilar Grand Strategy 2045, yakni diplomasi aktif, ketahanan ekonomi domestik, modernisasi pertahanan terintegrasi, serta penyiapan generasi muda melalui literasi geopolitik, penguasaan teknologi masa depan, berpikir kritis, dan ketahanan pribadi untuk mengubah krisis global menjadi peluang kemajuan bangsa. (Oleh : Najwa Athaillah Zulvi Mahasiswi FISIP HI Jayabaya - NIM 2023350750004)

Lebih baru Lebih lama

Translate

googel tags

نموذج الاتصال

BADAN HUKUM
BADAN HUKUM PT. ILYASA PRATAMA MEDIA, IZIN KEMENKUMHAM: AHU-018493.AH.01.30.Tahun 2022, NOMOR INDUK BERUSAHA (NIB): 2505220049434, REG ID DEWAN PERS: 24123
//") //]]>