Pesawaran, KASTV – Aksi damai masyarakat adat yang berlangsung di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pesawaran pada Rabu (17/6/2026) menghadirkan pemandangan yang menarik perhatian peserta aksi. Di tengah ribuan masyarakat yang memperjuangkan hak atas tanah adat, tampak seorang balita berusia 2,5 tahun bernama Tuhfa Email Jayid Sugiarto turut hadir mendampingi kedua orang tuanya.
Tuhfa merupakan putra pasangan Sugiarto, Pimpinan Redaksi KBNI-News, dan Yunita Amelia, Pimpinan Media Ratu Dunia. Kehadirannya di berbagai kegiatan sosial dan aksi damai masyarakat adat bukanlah hal baru. Bahkan, menurut keluarganya, Tuhfa telah ikut mendampingi perjuangan masyarakat sejak masih berada dalam kandungan ibunya yang saat itu berusia tujuh bulan.
Dalam aksi damai tersebut, Tuhfa terlihat berada di tengah masyarakat adat, tokoh-tokoh masyarakat, serta para pejuang agraria yang selama ini memperjuangkan kepastian hukum atas tanah adat di Kabupaten Pesawaran. Suasana aksi yang berlangsung tertib dan damai tampak tidak membuatnya canggung. Ia justru terlihat akrab dengan lingkungan perjuangan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak dini.
Sang ayah, Sugiarto, mengungkapkan bahwa putranya telah terbiasa mengikuti berbagai kegiatan sosial sejak sebelum dilahirkan.
"Tuhfa Email Jayid Sugiarto, saya pun pejuang, Om. Dari usia kandungan tujuh bulan hingga sekarang usia 2,5 tahun selalu ikut aksi damai tanah adat Pesawaran," ujarnya sambil tersenyum.
Bagi masyarakat adat yang hadir, keberadaan Tuhfa memiliki makna tersendiri. Ia dianggap sebagai simbol generasi penerus yang menyaksikan secara langsung perjalanan panjang perjuangan masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak mereka melalui jalur damai dan konstitusional.
Perjuangan masyarakat adat Pesawaran yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tidak hanya menyangkut kepentingan generasi saat ini, tetapi juga masa depan anak-anak yang akan mewarisi tanah dan lingkungan tempat mereka hidup. Kehadiran Tuhfa di tengah aksi damai menjadi pengingat bahwa perjuangan tersebut dilakukan demi keberlangsungan generasi mendatang.
Sejumlah peserta aksi berharap Tuhfa tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap masyarakat, lingkungan, dan nilai-nilai keadilan sosial. Meski masih belia, kehadirannya telah memberikan warna tersendiri dalam setiap perjalanan perjuangan masyarakat adat Pesawaran.
Bagi para peserta aksi, kisah Tuhfa menjadi simbol bahwa perjuangan mempertahankan hak atas tanah adat bukan hanya tentang hari ini, melainkan juga tentang masa depan generasi yang akan datang. Dukungan dan doa pun terus mengalir agar ia tumbuh menjadi anak yang bermanfaat bagi bangsa, masyarakat, dan lingkungannya. (Red)