PAPUA BARAT DAYA, KASUARITV.COM – Jalan menuju pedalaman di Tambrauw bukan sekadar soal jarak, tapi soal keberanian.
Terjal, berlumpur, dan licin.
Bagi yang belum terbiasa, medan seperti ini bukan hanya menguji kendaraan—tapi juga mental pengemudi.
Saya mengenal jalan itu bukan dari cerita, tapi dari pengalaman langsung. Duduk di balik kemudi, menembus jalur yang bahkan belum sepenuhnya layak disebut jalan.
Tanah merah yang basah, tanjakan curam, serta jurang di sisi kiri kanan menjadi pemandangan yang biasa.
Di wilayah Papua Barat Daya, perjalanan ke pedalaman bukan sekadar mobilisasi—ini adalah ujian nyali.
Ketika “Jago Off-Road” Bertemu Realita Papua
Pernah suatu waktu, seorang pemuda dari Jakarta ikut dalam perjalanan ke Tambrauw. Dengan percaya diri, ia mengaku sudah terbiasa dengan medan off-road.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain.
Baru beberapa kilometer masuk jalur tanah, ekspresinya mulai berubah. Jalan yang sempit, licin, dan tidak menentu membuat kendaraan beberapa kali kehilangan traksi. Ban berputar di lumpur, mesin meraung, dan mobil bergoyang mengikuti kontur tanah yang tidak bersahabat.
Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam.
Lututnya terlihat gemetar. Tidak ada lagi cerita tentang keahlian off-road. Yang tersisa hanya fokus untuk bisa sampai dengan selamat.
Setelah perjalanan itu, ia hanya berkata singkat:
“Ini bukan off-road biasa… ini beda.”
Bahkan, dengan nada bercanda ia mengaku lebih memilih kembali ke rutinitas sederhana dibanding harus menghadapi medan seperti itu lagi.
Logistik dan Perjalanan Panjang
Perjalanan ke pedalaman bukan hanya soal kendaraan dan sopir. Di balik itu, ada pengaturan logistik yang tidak sederhana.
Selama kurang lebih 18 hari, perjalanan dilakukan dengan rute yang mencakup beberapa wilayah di Papua Barat Daya.
Kendaraan disiapkan, bahan bakar diperhitungkan, hingga kondisi cuaca menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Biaya operasional pun tidak kecil.
Mobilisasi lapangan, termasuk sewa kendaraan dan kebutuhan perjalanan lainnya, dapat mencapai puluhan juta rupiah.
Namun di balik semua itu, pertanyaan yang sering muncul adalah:
Siapa yang mendanai perjalanan panjang tersebut?
Dan untuk tujuan apa kegiatan ini sebenarnya dilakukan?
Lebih dari Sekadar Perjalanan
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya perjalanan biasa ke daerah terpencil. Namun bagi yang pernah terlibat langsung, perjalanan ini menyimpan lebih banyak cerita.
Ada aktivitas yang berjalan di balik perjalanan tersebut. Ada tujuan yang tidak selalu dijelaskan secara terbuka.
Sebagai orang yang pernah berada di lapangan, saya hanya menjalankan peran—mengantar, memastikan perjalanan berjalan lancar, dan kembali.
Namun seiring waktu, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari.
Apakah semua yang terlihat di permukaan benar-benar mencerminkan apa yang terjadi di lapangan?
Dari Pengalaman ke Pertanyaan
Kini,ketika saya berada di ruang redaksi, pengalaman itu tidak lagi sekadar cerita perjalanan.
Ia berubah menjadi catatan.
Catatan tentang medan yang ekstrem, tentang orang-orang yang datang dan pergi, serta tentang aktivitas yang mungkin belum sepenuhnya dipahami publik.
Dan mungkin, ini baru awal.
