Di antara debu jalanan dan suara mesin mobil yang meraung di tanjakan terjal, saya mengenal Papua bukan dari balik meja, tapi dari balik kemudi.
Waktu itu, saya bukan wartawan.
Saya hanya seorang sopir—mengantar orang, logistik, dan kadang cerita yang tak pernah sampai ke publik.
Jalanan tanah menjadi rutinitas.
Dari kota ke distrik, dari distrik ke kampung, menembus wilayah yang bahkan sinyal pun enggan singgah. Di sana, saya melihat hal-hal yang tak pernah muncul di layar televisi atau halaman media.
Ada tim dari luar daerah, datang dengan misi yang tidak selalu dijelaskan secara terbuka. Ada kegiatan yang berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, dengan dukungan logistik yang tidak kecil. Kendaraan disewa, sopir disiapkan, rute diatur—semuanya berjalan rapi, seolah sudah dirancang jauh sebelum kaki pertama menginjak tanah Papua.
Saya pernah menjadi bagian dari itu—mengatur kendaraan, memastikan perjalanan berjalan lancar, mengantar mereka hingga ke pedalaman. Bukan sebagai pengamat, tapi sebagai pelaku di lapangan.
Namun waktu berjalan.
Kini saya berdiri di sisi lain—di ruang redaksi. Tempat di mana cerita-cerita itu seharusnya menemukan jalannya ke publik.
Dan di sinilah saya mulai bertanya:
Berapa banyak kisah dari pedalaman yang belum pernah ditulis?
Siapa yang sebenarnya bergerak di balik aktivitas yang terlihat “biasa” di permukaan?
Dan sejauh mana publik benar-benar tahu apa yang terjadi di lapangan?
Tulisan ini bukan sekadar cerita perjalanan.
Ini adalah catatan—tentang apa yang saya lihat, saya alami, dan yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Saksikan cerita selanjutnya
