Perang Iran–AS–Israel Memanas, Dampak Ekonomi Global Mulai Terasa hingga Indonesia


Dari opini Saiful Huda Ems- Pengamat politik

Konflik terbuka antara Iran melawan aliansi militer Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terus meningkat hingga memasuki hari keenam sejak pecahnya serangan awal pada akhir Februari 2026. Eskalasi perang ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mulai berdampak pada stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai target di wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas operasi militer gabungan yang sebelumnya dilakukan AS dan Israel terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.
Dalam serangan awal itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas. Kabar tersebut memicu kemarahan besar di dalam negeri Iran dan meningkatkan intensitas serangan balasan terhadap kepentingan militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Selain menyerang wilayah Israel, Iran juga dilaporkan menargetkan beberapa fasilitas militer AS di negara-negara kawasan, termasuk di Irak. Serangan tersebut memperluas kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel meningkatkan operasi udara dengan menargetkan fasilitas militer, peluncur rudal, serta infrastruktur strategis Iran. Serangan udara tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Konflik juga merembet ke wilayah Lebanon setelah Israel menyerang target yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata Hezbollah. Kelompok tersebut dituduh ikut meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

Laporan korban dari berbagai pihak masih belum sepenuhnya transparan. Sejumlah sumber menyebut lebih dari seribu orang tewas di Iran sejak konflik dimulai, sebagian besar merupakan warga sipil.

Di tengah situasi tersebut, mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, terlihat menghadiri prosesi pemakaman para korban di Iran. Kehadirannya menjadi sorotan karena sebelumnya sempat beredar kabar bahwa ia juga menjadi korban dalam serangan awal.

Dampak pada Ekonomi Global

Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah mulai mempengaruhi pasar energi dunia. Harga minyak global dilaporkan naik ke kisaran 80–83 dolar AS per barel. Para analis memperkirakan harga minyak dapat menembus 90 hingga 100 dolar AS per barel apabila konflik meluas.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh kekhawatiran gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Dampak bagi Indonesia

Indonesia termasuk negara yang berpotensi terdampak karena masih mengimpor minyak dalam jumlah besar dari luar negeri. Diperkirakan Indonesia mengimpor sekitar satu juta barel minyak per hari.

Kenaikan harga minyak global mulai berimbas pada harga bahan bakar minyak non-subsidi di dalam negeri. Salah satu contohnya adalah harga Pertamax yang dilaporkan naik dari sekitar Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter.

Pemerintah menyatakan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih akan dipertahankan setidaknya hingga periode Lebaran. Namun jika konflik berlangsung lama dan harga minyak dunia terus meningkat, beban subsidi energi dalam APBN berpotensi membengkak.

Selain itu, kenaikan harga energi dapat memicu efek lanjutan berupa peningkatan biaya transportasi, logistik, dan harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut berisiko menambah tekanan inflasi serta memperberat kondisi ekonomi masyarakat.

Para pengamat menilai perkembangan konflik di Timur Tengah perlu terus dipantau karena eskalasi yang lebih luas dapat berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global dan domestik.(*)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال