Identifikasi Nilai Ketakwaan Dalam Kehidupan Bermasyarakat

 

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki

Ramadan telah berlalu meninggalkan kita. Sikap seorang Muslim yang bijak akan menempatkan diri pada dua kemungkinan: bahagia karena telah menyelesaikan satu kewajiban dengan penuh komitmen dan kesungguhan, tapi juga memiliki rasa khawatir sekaligus harapan, apakah amalannya telah diterima atau tertolak? Karenanya doa terbaik adalah: “ya Allah terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. 


Kita tersadarkan bahwa tujuan kewajiban puasa tersimpulkan dalam satu kata: Taqwa. Sebuah kata yang menyimpulkan semua nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan seorang Mukmin, baik pada tataran kehidupan individual maupun kehidupan komunal. 


Sesungguhnya penilaian Ketakwaan yang sesungguhnya (haqqa tuqaatih) menjadi hak mutlak Allah, Rabbul alamin. Namun ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai landasan penilaian atau identifikasi dari Ketakwaan itu. 


Pada catatan kali ini saya ingin menggaris bawahi beberapa Identifikasi taqwa dalam kehidupan publik kita, yang saya simpulkan dari S. Ali Imran: 102-110.


Satu, menguatnya keimanan dan ketaatan. Ketika menyeru hambaNya kepada Ketakwaan, Allah memulai dengan “wahai orang-orang beriman” dan diakhiri dengan “jangan mati kecuali dalam keadaan Muslim”. Iman adalah ekpresi batin (keimanan). Sementara Islam adalah ekspresi lahir (ketaatan). Jika keduanya menyatu dalam realita kehidupan maka itulah Identifikasi Ketakwaan. 


Dua, tumbuhnya kohesi sosial (social cohesion). Kohesi sosial itu bukan sekedar kebersamaan. Tapi terjadi “wihdah” (persatuan) yang terbangun di atas asas “common ground” (pijakan bersama: al-iman. Serta memiliki visi yang sama: limardhotillah (Jannah). “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” dan “semoga kalian dirahmati” merupakan fondasi kohesi sosial dalam Islam. Di Surah Al-Imran ini disimpulkan dengan kalimat: “bersama-sama berpegang teguh kepada tali agama Allah” 


Tiga, terbangunnya kepedulian sosial yang tinggi. Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang memiliki tenggang rasa (solidaritas) yang tinggi di antara para anggota (ruhamaa). Karenanya mereka selalu mengedepakan “nilai-nilai kebaikan” (al-Khaer) serta kebajikan dan kemanfaatan (al-ma’ruf) dan akan selalu memerangi kejahatan (al-munkar).


Empat, tertanamnya nilai kehidupan yang berorientasi ukhrawi. Kehidupan seorang Muslim yang berlandaskan Ketakwaan akan selalu diingatkan suasana ukhrawi: “Pada hari wajah-wajah berseri” atau “pada hari wajah-wajah suram”. Kehidupan dunia ini sangat penting, namun bukan orientasi (tujuan). Dunia adalah “lahan menanam untuk dipetik di akhirat kelak). Sehebat dan senyaman apapun dunia, tidak akan memuaskan segala hasrat manusia dan pasti akan berakhir (faan). 


Lima, terwujudnya nilai-nilai terbaik (Khaer/excellence) kehidupan dalam segala aspeknya. Umat ini adalah ummat terbaik (Khaer ummah) dan ummah yang disaksikan (syuhada). Hidupnya berkarakter “excellence” (terbaik) dalam segala lininya: ekonomi, pendidikan, politik, bahkan pertahanan dan lain-lain. Karakter ini pula yang menjadilan umat ini terjuluki “ummah wasathan”. 


Itulah lima Identifikasi Ketakwaan dalam kehidupan komunal yang perlu dijaga dan perkuat demi terwujudnya: “baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur”, tersimpulkan dalam firmanNya: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" (Al-A'raf: 96).


Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال

//"). }); //]]>