Jakarta — Pemerhati pendidikan Wilson Lalengke menilai sikap diam kalangan pendidik terhadap polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo mencerminkan krisis moral serius dalam dunia pendidikan Indonesia.
Wilson menyebut isu ijazah palsu bukan sekadar persoalan hukum atau politik, melainkan menyangkut integritas dan martabat pendidikan nasional. Namun, hingga kini organisasi guru, dosen, dan asosiasi akademik dinilainya cenderung memilih bungkam.
“Ketika pemalsuan ijazah dianggap biasa, itu pertanda nilai kejujuran dalam pendidikan telah tergerus,” ujar Wilson dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (8/1/2026).
Ia menegaskan ijazah merupakan simbol perjuangan dan integritas, bukan sekadar dokumen administratif. Pemalsuan ijazah, menurutnya, merendahkan jutaan pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan secara jujur.
Wilson berharap mahasiswa berani bersuara menjaga integritas pendidikan. Jika tidak, ia mengingatkan masa depan bangsa berisiko dipimpin oleh orang-orang yang mengabaikan nilai kejujuran dalam dunia pendidikan. (*)