BAWEAN, GRESIK || KASTV -Cuaca ekstrem yang mengamuk di Laut Jawa dalam sepekan terakhir memicu kekhawatiran baru bagi masyarakat pesisir. Bukan hanya soal keselamatan pelayaran, namun munculnya sejumlah kapal misterius yang diduga kuat pelaku illegal fishing yang memanfaatkan perairan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, sebagai tempat persembunyian.
Fenomena ini menyusul gelombang tinggi dan angin kencang yang memaksa kapal-kapal berukuran besar menepi ke titik yang lebih tenang (Area Lego Jangkar) di sekitar pulau. Namun, keberadaan mereka dianggap mencurigakan oleh warga setempat.
Kehadiran kapal-kapal asing dan kapal bertonase besar ini mulai meresahkan nelayan lokal. Kapal tersebut terpantau berlabuh diam-diam tanpa melakukan aktivitas komunikasi atau bongkar muat yang lazim dilakukan kapal resmi saat berlindung.
Salah satu nelayan Bawean, Ahmad mengungkapkan bahwa penampakan kapal-kapal ini sangat berbeda dengan kapal nelayan yang biasa melintas di utara Jawa.
"Sudah beberapa hari ini terlihat kapal-kapal besar berlindung. Identitasnya tidak jelas, bendera dan nama lambungnya sering kali samar. Mereka tidak seperti kapal nelayan lokal atau kapal kargo resmi. Kami khawatir mereka sebenarnya sedang mengintai area tangkapan kami sambil menunggu badai reda," ujar Ahmad, Jumat (19/12/2025).
Secara geografis, Pulau Bawean berada di posisi "jantung" Laut Jawa, menjadikannya jalur strategis sekaligus benteng alami dari amukan ombak besar. Kondisi inilah yang kerap disalahgunakan oleh kapal penangkap ikan ilegal untuk bersembunyi dari patroli aparat maupun cuaca buruk.
Hingga berita ini diturunkan, cuaca di wilayah perairan Gresik-Bawean diperkirakan masih akan fluktuatif. Berdasarkan data BMKG, tinggi gelombang di Laut Jawa dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter dengan kecepatan angin yang sangat tinggi.
Kondisi alam ini menciptakan dilema: di satu sisi merupakan ancaman keselamatan, namun di sisi lain menjadi "celah keamanan" yang dimanfaatkan oknum nakal untuk masuk ke wilayah perairan tanpa izin resmi.
Masyarakat berharap pihak berwenang, mulai dari Satpolairud Polres Gresik hingga Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), segera turun tangan melakukan identifikasi terhadap kapal-kapal yang sedang lego jangkar tersebut.
Langkah ini penting untuk memastikan bahwa mereka benar-benar berlindung karena alasan darurat (force majeure) dan bukan dalam rangka melakukan aktivitas pencurian komoditas laut yang merugikan nelayan tradisional Bawean. (Jumali)
