Artikel Pendidikan
oleh Yeli Yanti, S.Pd
Pendidikan merupakan proses pembelajaran dalam mencapai suatu wawasan pengetahuan, keterampilan, sikap serta kebiasaan melalui suatu proses pengajaran, bimbingan, pelatihan serta penelitian. Pendidikan merupakan usaha sadar, terencana secara sistematis untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran bagi peserta didik secara aktif dalam mengali dan mengembangkan potensi dirinya sehingga lebih kritis dalam berpikir serta memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, yakni pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam proses pembelajaran seorang guru bertanggung jawab dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, sehingga dituntut untuk dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan lebih berfikir kritis dalam belajar. Kemampuan yang harus dimiliki seorang guru, agar mampu menjadi guru yang profesional adalah dapat memahami bagaimana peserta didik belajar dan bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter peserta didik, serta memahami cara peserta didik belajar.
Konsep dasar pembelajaran seperti itu dirumuskan pada Bab IV Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Proses Pendidikan pasal 19 (ayat 1) dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi pakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis siswa”. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar harus berorientasi pada aktivitas peserta didik. Wina Sanjaya (2008:179).
Penggunaan model pembelajaran yang masih bersifat konvensional seperti ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas dalam kegiatan belajar mengajar cenderung bersifat satu arah dan berpusat pada guru. Peserta didik hanya mencatat, menghafal dan mendengarkan penjelasan dari guru sehingga peserta didik kurang terlibat dalam proses pembelajaran serta mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Penerapan pembelajaran yang demikian dapat menimbulkan rasa bosan, jenuh bagi peserta didik sehingga dalam memahami dan menyerap materi pembelajaran yang sedang berlangsung tidak dapat maksimal.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa guru kurang kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran yang mengakibatkan peserta didik merasa tidak ada hal yang baru sehingga kurang bersemangat mengikuti pembelajaran.
Pada kenyataan di lapangan, ditemukan banyak peserta didik yang menggangap bahwa salah satu mata pelajaran yang membosankan adalah mata pelajaran PPKn. Penyebabnya terjadinya hal tersebut salah satunyan dikarenakan guru dalam memberikan pembelajaran PPKn hanya menanamkan konsep tanpa melibatkan atau mengkaitkan pembelajaran PPKn dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Selain itu kurangnya pembiasaan yang dilakukan guru untuk mengarahkan peserta didik berpikir secara kritis melalui penyajian masalah yang terkait dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Kemapuan Berpikir kritis adalah kemampuan untuk melakukan analisis, menciptakan dan menggunakan kriteria secara objektif dan melakukan evaluasi data. Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif seperti mengenali hubungan, menganalisis masalah yang bersifat terbuka menentukan sebab akibat, membuat kesimpulan dan memperhitungkan data yang relevan.
Proses pembelajaran yang mengarahkan peserta didik sebagai pelaku aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan penggunaan media pembelajaran yang lebih menarik dipercaya lebih efektif dalam meningkatkan kualitas belajar peserta didik dan menghasilkan pencapaian materi pelajaran yang lebih maksimal, dengan melalui penerapan model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan dengan mengkaitkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Salah satu model pembelajaran inovatif yang strategi digunakan adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dimana peserta didik belajar melalui permasalahan praktis yang berhubungan dengan dunia nyata (real world), yang kemudian diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan secara sistematis.
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya keterampilan berpikir kritis peserta didik (penalaran, komunikasi, dan 6 koneksi) dalam memecahkan suatu masalah, belajar mandiri, kerja sama tim, dan memperoleh pengetahuan yang luas.
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) atau bisa disebut Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah proses pembelajaran yang menekankan pada keaktifan peserta didik, dimana peserta didik dituntut untuk aktif dalam pembelajaran, melatih keterampilan berpikir kritis, proses belajar dengan mengoptimalisasikan kemampuan peserta didik melalui proses kerja kelompok atau tim secara sistematis, sehingga peserta didik dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan yang berorientasi pada masalah dunia nyata. Sebab perkembangan intelektual peserta didik terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka berusaha memecahkan masalah yang dimunculkan.
Pembelajaran berbasis masalah (PBM) dapat dilaksanakan dengan beberapa tahapan, yakni: (1) orientasi peserta didik pada masalah, (2) mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Adapun langkah- langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) antara lain:
Orientasi peserta didik pada masalah
Guru menyampaikan masalah yang akan dipecahkan secara kelompok.
Masalah yang diangkat hendaknya kontekstual. Masalah bisa ditemukan sendiri oleh peserta didik melalui bahan bacaan atau lembar kegiatan.
Kelompok mengamati dan memahami masalah yang disampaikan guru atau yang diperoleh dari bahan bacaan yang disarankan.
Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.
Guru memastikan setiap anggota memahami tugas masing-masing.
Peserta didik berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari data/ bahan-bahan/ alat yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok.
Guru memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data/ bahan selama proses penyelidikan.
Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari data/ referensi/ sumber) untuk bahan diskusi kelompok.
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Guru memantau diskusi dan membimbing pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan.
Kelompok melakukan diskusi untuk menghasilkan solusi pemecahan masalah dan hasilnya dipresentasikan/disajikan dalam bentuk karya.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membimbing presentasi dan mendorong kelompok, memberikan penghargaan serta masukan dan saran kepada kelompok lain. Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi.
Setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/ membuat kesimpulan sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok lain.
Dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) tersebut terdapat kendala dalam mencapai tujuan pembelajaran, namun sebagai guru tentunya telah menyiapkan langkah-langkah apa saja yang digunakan untuk menghadapi tantangan tersebut, antara lain: mengkondisikan peserta didik terhadap model pembelajaran yang dipilih, mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan agar media yang digunakan dapat bermanfaat secara maksimal, mengkondisikan kelas yang bersebelahan dengan berkordinasi pada guru yang mengajar agar keadaan lebih kondusif, serta berkolaborasi dengan peserta didik dan teman sejawat.
Penggunaan proyektor, media pembelajaran dalam bentuk power poin, materi dalam bentuk lembaran portofolio serta penggunaan Video pembelajaran (YouTube) merupakan bagian-bagian dari sumber daya pembelajaran dalam proses penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sehingga proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien. Dampak hasil yang dilakukan dapat membantu meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran, dibuktikan dengan hasil evaluasi pembelajaran peserta didik.
Pemilihan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah sangat meningkatkan aktivitas peserta didik, Terjalinnya kerja sama secara berkelompok serta meningkatkan cara berpikir yang lebih kritis peserta didik dalam menganalisis serta menyelesaikan permasalahan yang disajikan oleh guru sehingga pembelajaran berpusat pada peserta didik dan motivasi belajar juga menjadi meningkat. Pemberian reward pada kelompok terbaik disetiap akhir tugas membuat Peserta didik senang dan lebih bersemangat dalam pembelajaran. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) tersebut dapat meningkatkan aktivitas belajar dan cara berpikir kritis peserta didik serta menjadi hal yang baru serta menyenangkan bagi peserta.
Salah satu bentuk keberhasilan pelaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL), yaitu respon peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran adalah peserta didik sangat antusias, dengan terlibat langsung dalam kegiatan yang menarik, dapat dilihat saat kegiatan refleksi akhir pembelajaran, dengan memberikan tanggapan bahwa pembelajaran sangat menyenangkan. Selain itu hasil belajar yang diperoleh peserta didik telah memenuhi KKM.
Daftar Pustaka:
PERMENDIKNAS RI No. 19 Tahun 2005. Standar Nasional Pendidikan
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana
UU No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional
Penulis adalah Guru PPKn MTs Negeri Kota Sorong Papua Barat Daya
