REMBANG— Sebanyak 725 siswa dan guru
SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami gejala yang
diduga akibat keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG),
Kamis (3/9/2026).
Dari
jumlah tersebut, sebanyak 25 orang merupakan guru. Mereka mengalami sejumlah
gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan dan kemudian mendapatkan
penanganan medis.
Peristiwa
tersebut terjadi setelah para siswa dan guru menyantap makanan dalam program
MBG. Tak lama kemudian, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka.
Beberapa
di antaranya dilaporkan mengalami mual, muntah, dan sakit perut. Kondisi
tersebut kemudian memicu kepanikan di lingkungan sekolah.
Sejumlah
korban selanjutnya dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan
dan perawatan. Penanganan juga dilakukan untuk mengantisipasi bertambahnya
jumlah pasien.
“Kami
tidak menyangka, makanan yang katanya bergizi justru membuat kami mual dan
muntah. Anak-anak panik, kami pun ikut panik,” ujar seorang guru yang meminta
identitasnya dirahasiakan.
Seorang
siswi kelas XI juga menceritakan kondisi di sekolah setelah sejumlah siswa
mulai mengalami gejala.
“Teman-teman
saya banyak yang muntah. Ada yang sampai pingsan. Kami saling bantu, tapi
akhirnya semua dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Orangtua
siswa kemudian berdatangan ke sekolah dan fasilitas kesehatan untuk memastikan
kondisi anak mereka.
“Saya
hanya ingin anak saya sehat. Program ini bagus, tetapi kalau begini, siapa yang
bisa menjamin keselamatan mereka?” kata seorang wali murid.
Pemerintah
daerah bersama dinas kesehatan setempat melakukan investigasi untuk mengetahui
penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa dan guru.
Pemeriksaan
diperlukan untuk memastikan apakah kondisi tersebut benar-benar berkaitan
dengan makanan yang disalurkan melalui program MBG.
Selain
kondisi para korban, kualitas makanan, bahan pangan, proses pengolahan, hingga
mekanisme distribusi juga menjadi bagian penting dalam penelusuran.
Sebagian
korban dilaporkan telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan
medis. Namun, keluarga siswa masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui
penyebab pasti kejadian tersebut.
Kasus di
Rembang terjadi setelah sebelumnya muncul dugaan keracunan yang melibatkan
ratusan penerima MBG di Sidoarjo, Jawa Timur.
Jumlah
korban di Sidoarjo dilaporkan mencapai 668 orang, yang mayoritas merupakan
santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam serta sejumlah siswa dari sekolah di
sekitar wilayah tersebut.
Rangkaian
kejadian tersebut kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keamanan
pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Program
MBG dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Namun,
pelaksanaannya membutuhkan pengawasan ketat, mulai dari pemilihan bahan pangan,
proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima.
Hasil
investigasi nantinya diharapkan dapat menjawab penyebab kejadian di Rembang
sekaligus menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
