JAKARTA — Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Dr. Jerry Massie, MA, Ph.D, menilai perbandingan kekuatan militer antara Amerika Serikat dan Iran sangat timpang dan dapat diibaratkan “langit dan bumi”.
Menurut Jerry, dari sisi anggaran pertahanan saja perbedaannya sangat signifikan. Amerika Serikat mengalokasikan anggaran militer sekitar US$895 miliar per tahun, sementara Iran berada di kisaran belasan miliar dolar AS.
“Secara kuantitatif dan teknologi, kekuatan militer Amerika jauh di atas Iran. Baik dari jumlah pesawat tempur, kapal induk, hingga sistem pertahanan rudal,” ujar Jerry dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Ia mencontohkan keberadaan pesawat pembom siluman seperti Northrop B-2 Spirit serta jet tempur generasi kelima Lockheed Martin F-22 Raptor yang dinilai memiliki keunggulan signifikan dalam teknologi siluman dan daya hancur.
Selain itu, Amerika Serikat juga memiliki kapal induk kelas dunia seperti USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln yang mampu membawa ribuan personel serta puluhan pesawat tempur dalam satu armada tempur.
“Dari sisi alutsista dan proyeksi kekuatan, Iran akan menghadapi tantangan besar jika berhadapan langsung dalam perang terbuka,” katanya.
Meski demikian, Jerry mengingatkan bahwa konflik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer konvensional. Ia menilai eskalasi dapat meluas apabila negara besar lain seperti Rusia atau China ikut terlibat secara langsung.
“Kalau kekuatan besar masuk, maka potensi konflik regional bisa berubah menjadi krisis global,” ujarnya.
Namun sejauh ini, menurut dia, belum terlihat indikasi keterlibatan militer langsung dari negara-negara tersebut dalam konflik terbuka.
Jerry juga menilai faktor geopolitik dan energi tidak bisa diabaikan. Kawasan Teluk, termasuk jalur strategis seperti Selat Hormuz, merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
“Selama kepentingan energi dan keamanan regional menjadi taruhan, konflik ini akan terus memiliki dimensi strategis yang kompleks,” katanya.
Jerry menekankan bahwa meskipun perbandingan kekuatan terlihat timpang, dinamika perang modern tidak hanya ditentukan oleh angka dan anggaran, tetapi juga strategi, aliansi, serta stabilitas domestik masing-masing negara.
“Superioritas militer tidak selalu menjamin kemenangan cepat. Faktor diplomasi dan tekanan internasional juga sangat menentukan,” tutupnya.
Tags
DUNIA