Kasus Pajak dan Bea Cukai dan Makan Bergizi Gratis (MBG)

 

Anthony Budiawan- Managing Director Political Economy & Public Studies (PEPS)

Opini Anthony Budiawan- Managing Director Political Economy & Public Studies (PEPS)

 

Terkait sejumlah kasus yang mencuat di Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Pajak, termasuk penangkapan pejabat seperti Direktur Penyidikan melalui OTT, muncul pertanyaan apakah penelusuran kasus ini perlu diperluas hingga ke kebijakan pada periode sebelumnya di Kementerian Keuangan.

 

Sejak lama telah disoroti adanya dugaan transaksi mencurigakan berdasarkan informasi dari PPATK yang nilainya mencapai Rp349 triliun dan melibatkan pegawai Kementerian Keuangan. Dugaan tersebut mengarah pada kemungkinan praktik yang bersifat sistemik dan terorganisir.

 

Dalam salah satu persidangan, disebutkan adanya pengakuan bahwa pemeriksa pajak memiliki target tertentu. Jika terjadi negosiasi, dana yang diperoleh dikumpulkan dan dibagi, sebagian ke direktorat atau subdirektorat, dan sebagian lagi ke tim pemeriksa. Jika praktik semacam ini benar terjadi, maka menunjukkan persoalan yang terstruktur.

 

Untuk Bea Cukai, beberapa kasus terungkap melalui OTT KPK. Modusnya berbeda dengan proyek pengadaan, melainkan terkait proses administrasi keluar-masuk barang. Karena sifatnya administratif, pembuktian sering kali lebih efektif melalui OTT.

 

Pandangan yang muncul menegaskan bahwa jika terdapat pejabat lain, termasuk pejabat periode sebelumnya yang terindikasi terlibat, maka secara hukum tetap dapat dimintai keterangan. Dalam hukum pidana tidak ada kekebalan berdasarkan jabatan. Siapa pun dapat dipanggil jika memang diperlukan dalam proses hukum.

 

Sebagai contoh, kasus Bank Century kembali disinggung karena dinilai menyisakan pertanyaan publik. Intinya, apabila ada dugaan intervensi atau ketidakwajaran dalam proses hukum, maka hal tersebut juga semestinya dapat diklarifikasi secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi.

 

Pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo. Secara niat, program ini bertujuan meningkatkan gizi anak. Namun yang menjadi pertanyaan adalah ketepatan sasaran. Tidak semua penerima adalah anak dengan kondisi kekurangan gizi. Jika program diberikan secara merata tanpa penyaringan berbasis kebutuhan, maka berpotensi tidak efektif dan membebani anggaran.

 

Masalah utama kekurangan gizi dinilai berakar pada kemiskinan. Karena itu, pendekatan yang lebih fundamental adalah pengentasan kemiskinan. Jika kemiskinan tertangani, orang tua dapat memenuhi kebutuhan gizi anak secara mandiri.

 

Dari sisi fiskal, program ini disebut sebagai redistribusi konsumsi. Jika seorang anak sudah mendapat makan di sekolah, konsumsi rumah tangga bisa berkurang. Secara total, jika anggaran negara tidak bertambah dan hanya direalokasi dari pos lain, maka dampak ekonominya menjadi terbatas.

 

Misalnya, jika total fiskal 100 dan 20 dialihkan untuk MBG dari pos lain, maka sektor yang sebelumnya menerima 20 tersebut akan terdampak. Efek penggandanya bisa saling meniadakan.

 

Selain itu, jika dana diambil dari anggaran pendidikan, dampaknya bisa lebih serius karena pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing bangsa. Mengurangi investasi produktif demi konsumsi jangka pendek berisiko menurunkan kapasitas pembangunan di masa depan.

 

Program ini dinilai tidak menyentuh persoalan struktural ekonomi, melainkan lebih pada peningkatan konsumsi.

 

Persoalan utama ekonomi Indonesia dinilai berada pada struktur industri dan ekspor. Data menunjukkan bahwa ekspor Indonesia kini hanya sekitar 60 persen dari Vietnam. Satu dekade lalu, Indonesia justru lebih unggul. Vietnam dinilai berhasil mengintegrasikan impor bahan baku menjadi produk ekspor bernilai tambah.

 

Pertumbuhan ekonomi 7 persen dinilai sulit dicapai jika hanya mengandalkan konsumsi domestik. Pertumbuhan tinggi membutuhkan:produksi yang kuat, industrialisasi yang kompetitif, ekspor yang terintegrasi dengan pasar global. Ekspor membuka akses ke pasar yang jauh lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan pembeli dalam negeri.

 

Karena itu, prioritas utama yang dinilai perlu dilakukan adalah restrukturisasi industri nasional dan peningkatan daya saing ekspor. Jika suatu program tidak efektif dalam mendukung pembangunan industri jangka panjang, maka perlu dievaluasi secara berani.

 

Secara keseluruhan, tantangan ekonomi Indonesia bukan semata persoalan konsumsi, melainkan persoalan struktural: produktivitas, industrialisasi dan integrasi global.  Tanpa pembenahan mendasar pada struktur ekonomi dan tata kelola institusi, target pertumbuhan tinggi akan sulit terealisasi secara berkelanjutan.

 

Sumber:: https://youtu.be/zytLHiIeRzA?si=_pTX6g8bNgB7HbUw

 

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال