JAKARTA (KASTV) - Raja Sapta Oktohari (RSO), mantan Ketua HIPMI dan
sekarang menjabat sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dikenal
dengan panggilan Okto. Okto adalah anak dari Oesman Sapta Odang, Ketua umum
partai Hanura.
RSO awalnya mempunyai karir cemerlang sebagai pejabat negara
mengingat posisi ayahnya sebagai Ketum Partai. Namun, karirnya terpaksa hancur
karena terlibat skandal PT MPIP dan OSO Sekuritas dengan kerugian Rp7.5 triliun
dengan korban kurang lebih 7000 orang.
“Awalnya RSO di gadang-gadang menjadi Menpora karena
jabatannya sebagai Ketua KOI. Namun Jokowi mendengar kiprah negatif RSO dalam
skema ponsi sehingga RSO harus hilang kesempatan menjadi Menpora. Kami
memprediksi karir RSO akan makin jeblok kedepannya karena media online dan
media sosial gencar membongkar borok busuk RSO dalam kasus Mahkota," ujar
Kadiv Humas LQ Indonesia Lawfirm, Selasa (9/5/2023).
"RSO salah prediksi dan sesumbar, kiprahnya dalam
menolak membayar kewajiban para investornya akan mengakibatkan rusaknya citra
dan reputasi RSO dan rusaknya bisnis dia. Semua akibat ulahnya sendiri,”
ujarnya.
“Dengan tidak membayar kewajibannya maka para korban berhak
dan akan selalu berteriak sehingga pemerintah tidak mungkin akan memilih
pejabat yang berisik atau "noisy". Bisa dibilang karir RSO berakhir
sudah. Menurut saya pribadi ini adalah sebuah kebodohan dimana uang sesaat
merusak masa depannya." ucap Advokat Bambang Hartono dengan tersenyum.
LQ Indonesia Lawfirm sebagai firma hukum yang paling aktif
berteriak, tidak akan stop berjuang dan menyuarakan sebagaimana semboyan ‘No
Viral, No Justice’.
"Akibatnya adalah Sosial Punishment akan berjalan, RSO
bisa saja kebal hukum terhadap oknum POLRI yang tidak berani menghadapi
penjahat kerah putih, tapi masyarakat akan menghakimi dan berakibat rusaknya
citra dan reputasi RSO seumur hidupnya," ujar Bambang.
"Disaat penjahat kerah putih berpikir mereka menang dan
kebal hukum, mereka lupa disaat sesumbar mereka bagaikan berdiri diatas batu
karang yang licin, setiap saat bisa jatuh. Camkan kata-kata saya RSO akan jatuh
lebih keras dan lebih sakit jika tetap ngotot tidak membayar kewajibannya
kepada para korbannya,” katanya.
“Dunia berputar dan karir politiknya akan jatuh, kekuasaan
ayahnya juga ada batas waktunya. Saat kekuasaannya berakhir, maka amarah
korbannya dan masyarakat akan terlambat baginya untuk berubah," tutupnya.
