Opini oleh M Rizal Fadillah *)
Publik awal menduga kepindahan Sandiaga Uno dari Gerindra ke
PPP adalah disain internal Partai Gerindra, akan tetapi kemudian diketahui dan
terbukti tidak. Nampaknya Sandi sendiri secara pribadi yang berinisiatif. Tentu
setelah lobi-lobi dengan petinggi PPP. Tawarannya entah Ketum PPP atau Cawapres
dari PPP. Yang jelas Sandi sedang berjudi.
Kekecewaan petinggi Partai Gerindra mudah terbaca dari
komentar mengenai jasa Partai yang telah membesarkan Sandi sejak Wagub DKI,
Cawapres Prabowo hingga rekomendasi Menteri. Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto
meminta agar Sandiaga Uno mempertimbangkan kembali rencana kepindahannya.
Menurut Sekjen Partai Gerindra Muzani pesan Prabowo yang
dititipkan padanya adalah agar Sandi sabar dalam berjuang, tetap konsisten dan
menjaga kebersamaan. Pesan itu rupanya kalah cepat dengan Sandi yang telah
lebih dulu melompat.
Dengan cepatnya PPP mendukung Ganjar sebagai Capres
menunjukkan Sandi yang sudah masuk PPP akan ditawarkan sebagai Cawapres Ganjar
Pranowo. Ini mungkin kalkulasi dirinya hingga ia bersemangat kuat untuk
berpindah ke Partai berlambang Ka’bah tersebut.
Persoalan muncul ketika ternyata PPP tidak solid. Penolakan
dari Gerakan Pemuda Ka’bah Al Quds Purworejo atas sikap DPP PPP yang mendukung
Ganjar adalah awal dari riak. Adanya pihak yang mempertanyakan keabsahan
usungan DPP pimpinan Plt Ketum Mardiono menjadi riak lain. Konon akan ada
gerakan-gerakan perlawanan dari berbagai daerah.
Jika PPP hangat bahkan panas dalam menyikapi dukungan kepada
Capres Ganjar Pranowo maka PDIP dipastikan akan mempertimbangkan efektivitas
keberadaan PPP dalam koalisi. Dan hal ini tentu berpengaruh pada posisi
Sandiaga Uno. Ketika dadu Sandi tidak bergulir ke arah keberuntungan, maka
bandar tidak akan memilih Sandiaga Uno untuk Cawapres Ganjar.
Habil Mar’ati mantan Bendum PPP dan Ketua Forum Membangun
(FKM) PPP menyatakan beberapa senior PPP kemungkinan akan melakukan gugatan ke
PTUN terhadap Plt Ketum Mardiono sehubungan turunnya surat Kemenhukham 6 April
2023 yang “men-status quo-kan” DPP PPP. Kondisi ini akan menambah gonjang-ganjing
internal PPP.
Prediksi kuat adalah bahwa aspirasi kader grass root PPP
untuk Capres bukanlah kepada Ganjar Pranowo tetapi Anies Baswedan.
Posisi Sandiaga Uno semakin tidak pasti, apalagi jika Plt
Mardiono tidak kokoh sebagai personal yang memiliki kewenangan untuk mengambil
keputusan formal pengusungan Capres ke KPU kelak. PDIP sendiri memiliki
kapasitas secara mandiri untuk berhak mengajukan Capres Cawapres. Karenanya
PDIP tentu tidak akan mengambil risiko pencitraan buruk akibat gonjang ganjing
PPP.
Di sisi lain jikapun Sandi ternyata mampu berpasangan dengan
Ganjar, maka pendukung Sandi dahulu saat bersama Prabowo sudah berlompatan
pula. Terhitung sejak ia bergabung dengan kabinet Jokowi. Jadi Sandi sebenarnya
sudah tidak memiliki “pengikut” selain yang kini terlokalisasi di partainya
yang baru, PPP.
Sandiaga Uno itu sebenarnya menjadi tidak berdaya guna.
Tercitrakan sebagai figur yang mencla-mencle, terbuai php atau anak muda yang
haus kekuasaan.
Andaipun lompatan Uno berhasil merebut Ketum PPP, maka
secara tidak langsung ia telah merusak dan mengubah PPP dari Partai para ulama
menjadi Partai milik pengusaha. PPP adalah Partai umat yang telah terjual atau
tergadaikan. Ka’bah tidak lagi menjadi simbol dari spiritualitas dan kesakralan
tetapi simbol perdagangan. Bahkan perjudian. Moga tidak terjadi.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 28 April 2023
