Lumajang (KASTV) - Reses anggota Komisi IX DPR RI, Nur Yasin bertempat di warung apung Bu Umi,Banjarwaru pada Sabtu (5/11/2022), berjalan dengan penuh keakraban.
Dengan di awali pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya,semakin menyemarakkan antusiasnya para undangan dalam giat tersebut.
Ada banyak apresiasi dan catatan positif yang mengiringi masa reses politisi PKB ini. Reses di Lumajang kali ini dilakukan di lima titik dan berakhir Sabtu (5/11/2022) besok.
Fokus reses kali ini adalah sosialisasi standar pangan olahan kepada masyarakat, senyampang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan.
Hal ini sebagai bentuk sinergitas Komisi XI DPR RI dengan BPOM dalam upaya mendorong kreativitas industri pangan inovatif dan bisa diterima masyarakat.
Dalam sambutanya, Nur Yasin, Komisi IX DPR RI, mengatakan bahwa kerjasama ini adalah kolaborasi dengan Badan POM, termasuk dalam semua aspek pendaannya.
"Tapi memang mohon disadari juga kemapuannya memang terlalu kecil untuk mengkaver cuma 5 kabupaten saja," tutur Nur Yasin.
Menurutnya, selama ini fasilitas pendudukungnya yang ada dinilai masih sangat kurang maksimal, sehingga untuk melakukan sidak dilapangan masih terdapat banyak hambatan hambatan.
"Ya masih banyak hambatan hambatan, termasuk saat akan akan melakukan sidak sidak di lapangan," ujarnya.
Namun demikian, dirinya juga menyampaikan semacam sinyal akan adanya upaya untuk melakukan pembinanan terhadap UMKM, yaitu setimulilus mendapat dana pembinannya untuk produksi jamu.
"Sebenarnya ada juga pembinaan makanan tradisional atau jamu. Namun ketika kemarin kita ambil dari divisi produksi, nampaknya akan banyak anggaran yang dialokasikan kepada kualitas jamu," tuturnya lagi.
Nur Yasin berharap agar agar sosialisasi ini dapat menjadikan manfaat agar masyarakat lebih faham tentang BPOM.
"Betul. Tentu itu yang kami harapkan. Bahkan saya bersama BPOM selaku mitra pembicara ini tak bosan bosannya melakukan sosialisasi seperti ini," pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Nur Yasin juga mengakui fasilitas untuk ukuran Indonesia, hal ini dinilai tidak terlalu maksimal, sehing baru kalau ditemukan kasusnya baru bisa turun, seharusnya kan sebelum kasusnya terjadi mestinya adanya tindakan antisipasi sebelumya. (Diana)

