Public Discussion #2 | “Persaingan Ekonomi Global: Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer”
Jakarta, KASUARI_TV - Bertempat Ruang Seminar I, Lantai 5, Gedung Rektorat Kampus A Universitas Jayabaya, siang itu 15 Juli 2026 terasa lebih ramai dari biasanya. Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Jayabaya kembali menggelar rangkaian Public Discussion, kali ini memasuki seri kedua.
Bertajuk “Persaingan Ekonomi Global: Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer”, diskusi ini menghadirkan seorang narasumber yang namanya sudah tidak asing di telinga para pemerhati ekonomi-politik internasional: Dr. Ichsanuddin Noorsy, B.Sc., S.H., M.Si., dengan Alfian Handerson bertindak sebagai moderator. Antusiasme forum ini juga terlihat dari kehadiran Dekan FISIP Universitas Jayabaya beserta jajaran dosen, yang turut duduk bersama mahasiswa mengikuti jalannya diskusi dari awal hingga akhir.
Bagi mahasiswa Hubungan Internasional, forum semacam ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah ruang di mana teori-teori besar—liberalisme, realisme, hingga strukturalisme—diuji langsung dengan pembacaan atas dokumen, angka, dan peristiwa nyata. Dan sore itu, Noorsy membawa peserta menyusuri lorong panjang sejarah ekonomi-politik dunia, dari Bretton Woods hingga Selat Hormuz, dari Washington hingga Jakarta.
_Dari Bretton Woods ke Dunia yang Tak Lagi Bersandar Emas_
Diskusi dibuka dengan titik tolak yang klasik namun tetap relevan: Konferensi Bretton Woods 1944, ketika dolar Amerika Serikat dipatok terhadap emas dan menjadi jangkar sistem moneter internasional pasca-Perang Dunia II. Noorsy menandaskan bahwa tatanan itu tidak bertahan selamanya. Pada 1971, Presiden Richard Nixon secara sepihak mengakhiri konvertibilitas dolar terhadap emas—momen yang oleh banyak ekonom-politik disebut sebagai keruntuhan rezim Bretton Woods. Sejak itu, menurutnya, dolar tidak lagi bersandar pada logam mulia, melainkan pada satu hal yang jauh lebih abstrak namun tidak kalah kuat: kepercayaan global (global trust).
Pergeseran inilah, kata Noorsy, yang menjadi fondasi bagi seluruh rivalitas ekonomi global yang kita saksikan hari ini. Ketika mata uang tidak lagi diikat oleh sesuatu yang tangible, kepercayaan menjadi medan pertarungan tersendiri—dan siapa yang menguasai kepercayaan itu, pada dasarnya menguasai arsitektur ekonomi dunia.
_Dari Multipolar ke Unipolar: Era Hiperglobalisasi_
Noorsy kemudian menarik benang merah ke penghujung Perang Dingin. Ia mengingatkan bahwa keruntuhan sejumlah negara besar pada periode itu mengubah konfigurasi sistem internasional dari multipolar menjadi unipolar, dengan Amerika Serikat sebagai satu-satunya adikuasa yang tersisa. Fase inilah yang ia sebut sebagai awal mula hiperglobalisasi (hyper globalization)—globalisasi yang tidak lagi berjalan bertahap, melainkan dipaksakan dalam kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan satu pusat gravitasi ekonomi-politik tunggal.
_Indonesia: Kasus yang Menunjukkan Dunia Tunduk pada Sistem Dolar_
Bagian ini barangkali yang paling menohok bagi peserta diskusi. Menurut Noorsy, dalam pembacaan ekonomi-politik, Indonesia menjadi semacam ‘korban pertama’ yang dipakai untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sistem internasional pada akhirnya tunduk pada sistem dolar. Krisis yang menimpa Indonesia pada penghujung 1990-an, dalam kerangka ini, dibaca bukan sekadar persoalan domestik, melainkan bagian dari cara kerja sistem finansial global yang jauh lebih besar.
_War on Terror dan Kebangkitan Rival Baru_
Noorsy melanjutkan bahwa tatanan kontemporer ini mulai retak sejak Amerika Serikat menggulirkan War on Terror pada awal abad ke-21, dipicu oleh runtuhnya menara kembar World Trade Center. Menariknya, ia menunjuk tahun 2004 sebagai penanda penting: saat itu Amerika Serikat pada dasarnya menyatakan sikap ambivalen terhadap barang-barang asal Tiongkok yang beredar di pasar Amerika—dilindungi secara ekonomi, meski secara politik tidak disukai. Bagi Noorsy, momen inilah yang menandai bangkitnya rival potensial baru bagi hegemoni Amerika Serikat: Tiongkok.
_2008: Ketika Harga Minyak Menjadi Instrumen Geoekonomi_
Titik penting lain yang disorot adalah 14 Juli 2008, ketika harga minyak dunia melonjak hingga 147 dolar AS per barel. Noorsy membacanya bukan semata sebagai fluktuasi pasar, melainkan sebagai instrumen yang mendorong kenaikan permintaan negara-negara pengimpor (importir increase) sekaligus menyingkap dua hal krusial yang saling terkait dalam sistem pembayaran global. Harga energi, dalam pandangannya, tidak pernah benar-benar lepas dari kalkulasi geopolitik dan geoekonomi negara-negara besar.
_Dari “Persaingan” ke Competitive Coexistence: Jalan Tiongkok_
Salah satu poin reflektif dari diskusi ini adalah pergeseran istilah “persaingan” (competition) menjadi apa yang disebut Noorsy sebagai competitive coexistence—koeksistensi yang tetap kompetitif. Ia mencatat bahwa Tiongkok sempat menjadi pihak yang lebih dulu ‘dipukul’ secara kebijakan oleh pemerintahan Amerika Serikat, namun tiga puluh empat tahun kemudian, negara itu justru tampil memimpin dalam penguasaan mineral-mineral strategis dunia. Bagi peserta diskusi yang bergelut dengan isu geoekonomi, ilustrasi ini menjadi pengingat bahwa hegemoni bukanlah kondisi yang tetap, melainkan sesuatu yang terus-menerus diperebutkan.
_Mengoreksi Dikotomi Lama: Country vs Market_
Salah satu sumbangan pemikiran Noorsy yang paling khas adalah koreksinya terhadap dikotomi klasik market versus state. Ia berargumen bahwa kerangka itu terlalu sederhana untuk membaca realitas kontemporer, dan mengusulkan pembacaan yang lebih tajam: market versus country, serta state versus corporate. Persoalan mendasarnya, menurut Noorsy, bukan lagi sekadar mekanisme pasar berhadapan dengan peran negara, melainkan apakah konfigurasi kekuasaan ekonomi-politik itu mengarah pada homogenisasi tunggal atau tetap membuka ruang bagi keragaman jalan pembangunan setiap bangsa.
_Lima Pembebasan: Pesan Penutup dari Narasumber_
Diskusi ditutup dengan pesan yang jauh lebih personal dan menggugah. Dr. Ichsanuddin Noorsy menyampaikan lima hal yang, menurutnya, harus terus diperjuangkan untuk membebaskan bangsa ini: bebaskan bangsa saya dari kehinaan, dari ketimpangan, dari kemiskinan, dari kebodohan, dan dari ketindasan. Kalimat penutup ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik segala pembahasan tentang sistem moneter, rivalitas energi, dan konfigurasi kekuasaan global, muara dari ilmu Hubungan Internasional tetaplah kepentingan dan martabat manusia itu sendiri.
_Catatan Penutup_
Public Discussion #2 HIMAHI Universitas Jayabaya menegaskan bahwa membaca rivalitas ekonomi global tidak bisa berhenti pada permukaan berita harian. Dibutuhkan kesabaran untuk menelusuri korespondensi antarperistiwa, koherensi antar-kebijakan, dan konsistensi kepentingan yang bermain di baliknya—persis metode yang ditawarkan Dr. Ichsanuddin Noorsy sore itu. Bagi mahasiswa HI Universitas Jayabaya, forum ini menjadi pengingat bahwa memahami dunia internasional bukan sekadar menghafal teori, melainkan melatih kepekaan membaca pola di balik setiap dokumen, kebijakan, dan angka yang tampak berdiri sendiri-sendiri.
Diselenggarakan oleh HIMAHI Universitas Jayabaya | Media Partner: HMHI FISIP UI, Universitas Pertamina | Dokumentasi: Riezka Hasrowan Syahputri
