Viral di Media Sosial: “Kalau Ada Jambret Jangan Teriak, Nanti Masuk Penjara”, Sindiran Pedas atas Turunnya Kepercayaan Publik ke Polri

Viral di Media Sosial: “Kalau Ada Jambret Jangan Teriak, Nanti Masuk Penjara”, Sindiran Pedas atas Turunnya Kepercayaan Publik ke Polri


Indonesia (KASTV) _ Sebuah unggahan bernada satir yang berbunyi “Kalau ada jambret jangan teriak, nanti malah kita yang dipenjara” mendadak viral di berbagai platform media sosial. Unggahan tersebut dibagikan ribuan kali dan menuai beragam komentar warganet yang mayoritas bernada kecewa terhadap penegakan hukum di Indonesia.

Alih-alih dianggap sebagai candaan semata, banyak pihak menilai unggahan ini sebagai potret nyata menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian. Warganet menyoroti sejumlah kasus di mana korban justru berujung diproses hukum, sementara pelaku kejahatan bebas berkeliaran.

“Sekarang takut nolong orang, takut teriak maling, takut bela diri. Salah dikit bisa jadi tersangka,” tulis salah satu pengguna media sosial yang mendapat ribuan likes.

Tak sedikit pula yang melontarkan sindiran lebih tajam. Bahkan muncul komentar viral yang menyebut, “Mungkin lebih cocok kalau Polri bernaung di bawah Kementerian Pendidikan saja, biar sekalian belajar keadilan dan empati.”

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum. Masyarakat merasa hukum kerap tajam ke bawah namun tumpul ke atas, sementara rasa aman justru semakin menipis.

Pengamat sosial menilai, viralnya narasi semacam ini merupakan alarm keras bagi institusi kepolisian untuk melakukan pembenahan serius, baik dari sisi profesionalisme, transparansi, maupun keberpihakan kepada korban kejahatan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin apatis terhadap hukum dan memilih diam ketika melihat tindak kriminal terjadi — sebuah situasi yang sangat berbahaya bagi ketertiban sosial. (redaksi)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال