if ('serviceWorker' in navigator) { navigator.serviceWorker.register('/sw (3).js') .then(() => console.log('Service Worker Terpasang!')) .catch(err => console.log('Gagal:', err)); } https://otieu.com/4/10562368 Selamat Jalan Sahabat Pandapotan Lubis

Selamat Jalan Sahabat Pandapotan Lubis

Opini oleh: Muslim Arbi

Pagi itu, sebuah pesan singkat datang dengan kabar yang terasa begitu menyesakkan: sahabat, rekan seperjuangan demokrasi, Pandapotan Lubis, telah berpulang. Waktu seakan berhenti sejenak. Sulit percaya bahwa sosok yang beberapa jam sebelumnya masih berkirim pesan, masih berdiskusi tentang kondisi bangsa, kini telah pergi untuk selamanya.

Kepergian Lubis bukan sekadar kehilangan personal bagi para sahabatnya, melainkan juga kehilangan bagi perjalanan panjang demokrasi Indonesia. Ia adalah bagian dari generasi yang memilih bersuara di saat banyak orang memilih diam. Di masa ketika kekuasaan Orde Baru berdiri kokoh dengan segala perangkat kontrolnya, Lubis tampil sebagai salah satu suara yang tak gentar.

Saya mengenalnya sejak masa-masa ketika menyampaikan kritik bisa berujung pada intimidasi, pembungkaman, bahkan ancaman keselamatan. Namun bagi Lubis, keberanian bukanlah pilihan heroik yang dramatis, melainkan sikap hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh: bahwa kebenaran harus disuarakan, betapapun risikonya.

Di era Orde Baru, ruang kebebasan begitu sempit. Banyak aktivis bergerak dalam bayang-bayang, berbicara dengan bahasa simbol, dan menyusun langkah dengan sangat hati-hati. Lubis justru dikenal sebagai sosok yang lugas—tidak berputar-putar dalam menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Keberaniannya bukan tanpa konsekuensi. Tekanan, pengawasan, hingga stigma adalah bagian dari harga yang harus dibayar. Tetapi Lubis tetap berjalan di jalur yang ia yakini. Baginya, demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan martabat manusia yang harus diperjuangkan.

Banyak orang mungkin melihat perjuangan sebagai rangkaian aksi besar di jalanan. Namun Lubis juga memperjuangkannya melalui percakapan-percakapan kecil, diskusi panjang, dan kesetiaan menjaga nurani. Ia percaya bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ketekunan yang senyap.

Bagi saya pribadi, Lubis adalah sahabat diskusi yang nyaris tak pernah kehabisan energi. Dari persoalan politik nasional hingga kegelisahan tentang masa depan generasi muda, ia selalu hadir dengan pikiran yang tajam sekaligus hati yang hangat.

Percakapan dengannya tidak selalu serius. Ada tawa, ada cerita masa lalu, ada harapan yang diselipkan di antara kritik. Tetapi satu hal yang selalu terasa: cintanya pada negeri ini begitu besar. Ia mungkin keras dalam kata-kata, tetapi kelembutan itu tampak dari ketulusannya menginginkan Indonesia yang lebih adil.

Sore sebelum kabar duka itu datang, kami masih saling bertukar pesan. Masih membicarakan keadaan bangsa, seolah waktu memberi isyarat halus bahwa pertemuan itu akan menjadi yang terakhir. Kini, kenangan percakapan itu terasa jauh lebih berharga.

Kematian selalu membawa duka, tetapi juga menghadirkan cermin: apa yang ditinggalkan seseorang bagi dunia yang ia lalui. Lubis meninggalkan teladan keberanian moral—sesuatu yang semakin langka di tengah zaman yang sering menukar prinsip dengan kenyamanan.

Warisan terbesar seorang pejuang demokrasi bukanlah jabatan, bukan pula popularitas, melainkan jejak keberpihakan pada kebenaran. Dalam hal itu, Lubis telah menunaikan bagiannya.

Generasi setelahnya mungkin tidak mengalami langsung kerasnya represi Orde Baru. Namun nilai-nilai yang diperjuangkan Lubis tetap relevan: keberanian bersuara, kesetiaan pada nurani, dan keyakinan bahwa bangsa ini layak diperjuangkan tanpa lelah.

Kepergianmu begitu sunyi, tetapi jejakmu tak akan hilang. Dalam setiap upaya menjaga demokrasi tetap hidup, dalam setiap suara yang menolak ketidakadilan, di situ namamu akan selalu dikenang.

Selamat jalan, Pandapotan Lubis. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik, bersama mereka yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kebaikan.

Surga menantimu, sahabat. Dan kami yang ditinggalkan hanya bisa melanjutkan doa—serta perjuangan yang pernah kau nyalakan.
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال