Jakarta, KASTV — Kamis, 5 februari 2026
Di tengah semakin kuatnya tekanan ekonomi dan politik dalam industri media, jurnalis Kristen didorong untuk tetap menjalankan peran moral sebagai penjaga suara kaum lemah dan pengawas kekuasaan. Industrialisasi media dinilai berpotensi melemahkan fungsi pers sebagai alat kontrol sosial apabila nurani dan keberpihakan pada kemanusiaan dikesampingkan.
Hal tersebut disampaikan Jurnalis Senior Pewarna Indonesia, Ev. Kefas Hervin Devananda, dalam refleksinya mengenai tantangan jurnalisme di era media modern.
Menurutnya, orientasi media yang kian bertumpu pada rating, klik, dan kepentingan iklan telah menggeser perhatian dari isu-isu kerakyatan ke konflik elite yang lebih menguntungkan secara bisnis.
“Kaum miskin, korban ketidakadilan hukum, buruh tertindas, hingga masyarakat adat sering hanya menjadi objek pemberitaan tanpa empati dan keberpihakan yang nyata,” ujar Kefas.
“Jika pers kehilangan keberanian membela kaum lemah, demokrasi sedang menuju kehancuran moral.”
Ia menegaskan, keberpihakan terhadap korban ketidakadilan bukanlah bentuk aktivisme ideologis, melainkan tanggung jawab etis yang sejalan dengan prinsip jurnalistik dan nilai iman Kristen.
Objektivitas, kata dia, tidak berarti netral terhadap ketidakadilan, melainkan berpegang pada fakta dengan keberanian moral untuk membela kemanusiaan.
Kefas juga mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menempatkan media sebagai penjaga kepentingan publik dan pengawas kekuasaan. Namun dalam praktiknya, tekanan ekonomi dan politik kerap membuat fungsi tersebut melemah.
“Pers yang takut mengkritik kekuasaan sedang kehilangan rohnya. Pers yang hanya mengejar popularitas sedang mengkhianati kepercayaan publik,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Pewarna Indonesia sebagai organisasi wartawan Kristen dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk karakter jurnalis yang tidak hanya profesional, tetapi juga berintegritas secara moral dan spiritual.
Pewarna diharapkan menjadi ruang pembinaan nurani, bukan sekadar organisasi profesi administratif.
Selain itu, jurnalis Kristen juga diharapkan mampu berperan sebagai jembatan dialog lintas iman di tengah masyarakat Indonesia yang plural, dengan menghadirkan pemberitaan yang menyejukkan namun tetap kritis terhadap ketidakadilan.
Kefas menilai, jurnalis Kristen masa kini memikul peran kenabian, yakni berani menolak manipulasi fakta, mengungkap kebenaran yang disembunyikan, serta tidak berkompromi dengan kebohongan, meskipun harus menghadapi tekanan sosial maupun profesional.
“Ancaman terbesar bagi jurnalisme bukan hanya sensor negara atau tekanan ekonomi, tetapi ketakutan dalam diri wartawan sendiri. Ketika wartawan memilih aman daripada benar, di situlah jurnalisme kehilangan maknanya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa jurnalisme Kristen pada hakikatnya adalah pelayanan kemanusiaan. Berita tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga sebagai suara harapan bagi mereka yang hidup dalam bayang-bayang ketidakadilan.
“Tidak selalu populer, tidak selalu aman, tetapi harus bermakna,” pungkasnya. (IBC)