![]() |
| Ketgam: Gubernur Sultra Hadiri Pelantikan Andi Bahrun, ist |
Oleh: Ikhlas Arsyad
Panggung politik Sulawesi Tenggara kembali memanas. Publik dibuat mengernyitkan dahi sekaligus tersenyum kecut ketika Nur Alam disebut-sebut mencopot Andi Bahrun dari jabatan Rektor Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), namun di waktu yang hampir bersamaan, Gubernur Sultra justru hadir dalam pelantikan Andi Bahrun sebagai rektor.
Situasi ini sontak memantik tanda tanya besar: sebenarnya siapa yang berkuasa? 🤔
Jika keputusan pencopotan benar adanya, maka kehadiran Gubernur dalam pelantikan tersebut seolah menjadi “tamparan politik” yang menegaskan bahwa keputusan Nur Alam tak lagi bertaji seperti dulu. Namun jika pencopotan itu hanya manuver internal yayasan, maka legitimasi negara melalui kehadiran gubernur justru memperkuat posisi Andi Bahrun sebagai rektor sah.
Publik pun membaca ini sebagai pertarungan pengaruh, bukan sekadar urusan kampus. Unsultra yang seharusnya menjadi ruang akademik justru berubah menjadi arena tarik-menarik kepentingan elite.
Bahkan, sebagian kalangan menilai peristiwa ini menandai meredupnya dominasi politik lama, sekaligus menguatnya poros kekuasaan baru di Sulawesi Tenggara.
“Kalau dulu satu suara cukup untuk mengguncang kampus, sekarang tidak lagi,” ujar salah satu pengamat politik lokal.
Apapun tafsirnya, satu hal jelas: politik Sultra sedang panas, dan Unsultra kini bukan hanya kampus, tapi simbol pertarungan pengaruh. 🔥
Catatn Redaksi
