Tanah yang dulu dikenal penuh barakati—berkah, adab, dan kebersamaan.
Negeri yang orang-orangnya hidup dari kerja, bukan dari menindas.
Dari kejujuran, bukan dari kuasa.
Namun hari ini, Muna terasa asing.
Bukan karena tanahnya berubah, tetapi karena penguasanya menjelma Firaun, berbalut kata “keadilan”, namun menelanjangi nurani.
Rakyat dipaksa tunduk atas nama aturan.
Aparatur disuruh patuh meski perut kosong. PPPK bekerja tanpa upah,
lalu diminta “bersabar” seolah lapar adalah ibadah negara.
Ini bukan keadilan—ini kezaliman yang dilegalkan.
Firaun dulu memerintah dengan cambuk, Firaun hari ini memerintah dengan tanda tangan.
Tak ada rantai di tangan, tapi hak hidup dirampas perlahan.
Yang melawan dicap pembangkang. Yang kritis disebut tidak tahu diri.
Padahal mereka hanya menuntut hak paling dasar: dibayar atas kerja, dihargai sebagai manusia.
Jika Muna hari ini penuh jeritan, jangan salahkan rakyat.
Salahkan kekuasaan yang lupa diri,yang memerintah tanpa empati, yang berlindung di balik hukum sambil melanggar kemanusiaan.
Muna kampungku, kami tidak menolak pemimpin, kami menolak kezaliman yang disucikan.
Dan ingat satu hal:
Sejarah tak pernah ramah pada Firaun.
Mereka selalu tumbang—bukan oleh kekuatan besar, tetapi oleh doa dan kesabaran rakyat yang dikhianati.
Bukan benci. Ini peringatan.
By. Ikhlas (10/1/2026)
