![]() |
| Foto: Bukti Visual di Screnshoot dari Status WA Salah Satu Narapidana di Lapas Kendari |
Sultra (KASTV) _ Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari, Sulawesi Tenggara, kembali menjadi sorotan publik. Lapas yang semestinya menjadi tempat pembinaan narapidana itu diduga kuat menjadi sarang peredaran dan jual beli narkotika jenis sabu-sabu yang dikendalikan dari dalam penjara.
Dugaan tersebut mencuat setelah beredarnya tangkapan layar (screenshot) status media sosial milik salah satu narapidana Lapas Kendari, yang secara terang-terangan memamerkan sejumlah paket diduga sabu-sabu siap edar. Dalam unggahan tersebut juga disertai narasi yang mengindikasikan ketersediaan barang dan sistem pengemasan rapi, seolah transaksi berjalan tanpa hambatan berarti.
Sumber KasuariTV yang tidak bersedia disebutkan namanya mengungkapkan bahwa foto-foto tersebut diambil langsung dari status media sosial narapidana yang masih aktif menjalani masa hukuman di Lapas Kendari.
“Ini bukan lagi isu lama. Kalau narapidana bisa bebas memamerkan paket sabu, berarti ada kelalaian serius, bahkan dugaan pembiaran dari pihak pengelola lapas,” ujar sumber tersebut, Selasa (6/1/2026).
Beredarnya bukti visual itu memicu reaksi keras dari kalangan aktivis hukum di Sulawesi Tenggara. Mereka menilai kondisi ini sebagai tamparan keras bagi sistem pemasyarakatan serta bukti gagalnya pengawasan internal di Lapas Kendari.
Seorang aktivis hukum Sultra menegaskan bahwa peredaran narkoba di dalam lapas tidak mungkin terjadi tanpa adanya celah serius dalam sistem pengamanan.
“Mustahil sabu bisa beredar, dikemas, bahkan dipasarkan dari dalam lapas tanpa lemahnya kontrol petugas. Ini harus diusut tuntas,” tegasnya.
Ia bahkan mendesak pemerintah pusat, termasuk Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), untuk turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh dan mencopot Kepala Lapas Kendari apabila terbukti lalai atau terlibat.
“Kalau negara ingin serius memberantas narkoba, jangan tutup mata terhadap lapas yang justru berubah menjadi pusat kendali peredaran narkotika,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Lapas Kendari belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
Kasus ini kembali memperpanjang daftar dugaan peredaran narkoba di balik jeruji besi, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya mengendalikan lapas—negara atau jaringan narkotika?
Editor : redaksi
