JAKARTA — Harapan sebagian pihak yang meyakini kemerdekaan Palestina dapat dicapai dengan bergabung dalam satu kubu bersama Israel dan Amerika Serikat dinilai sebagai pandangan yang tidak realistis. Pandangan tersebut justru dianggap mengabaikan akar persoalan utama konflik Palestina-Israel, yakni ketimpangan kekuatan politik dan dukungan internasional yang selama ini berpihak pada Israel.
Sejumlah pengamat menilai, kemerdekaan Palestina hanya mungkin terwujud apabila dunia Islam mampu membangun persatuan politik dan diplomatik yang solid untuk menekan Amerika Serikat agar menghentikan dukungannya terhadap Israel. Tanpa perubahan sikap Washington, berbagai inisiatif perdamaian dinilai akan terus menemui jalan buntu.
“Bergabung dengan Israel dan Amerika dalam satu blok, sambil menyisihkan kepentingan Palestina, bukanlah solusi. Itu justru mengukuhkan status quo yang merugikan rakyat Palestina,” ujar seorang analis hubungan internasional, Senin 27/1/2026).
Menurutnya, dinamika global saat ini sebenarnya membuka peluang baru. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai semakin unilateral dan keras, terutama di era Presiden Donald Trump, telah memicu resistensi dari berbagai kawasan dunia. Kondisi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan oleh dunia Islam untuk membangun koalisi internasional yang lebih luas.
Koalisi tersebut, lanjut dia, tidak hanya terbatas pada negara-negara mayoritas Muslim, tetapi juga dapat melibatkan Uni Eropa, Rusia, China, negara-negara Amerika Latin, bahkan Kanada, guna memberikan tekanan diplomatik dan politik terhadap Amerika Serikat terkait isu Palestina.
Namun demikian, tantangan terbesar justru datang dari internal dunia Islam sendiri. Perpecahan politik, kepentingan nasional yang saling bertabrakan, serta lemahnya solidaritas dianggap menjadi penghambat utama terbentuknya kekuatan kolektif yang efektif.
Dalam konteks ini, sejumlah pihak mengingatkan kembali pesan Rasulullah SAW tentang kondisi umat di akhir zaman. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan menimpakan al-wahan ke dalam hati umat, yakni cinta berlebihan pada dunia dan takut mati, yang menyebabkan hilangnya keberanian dan kekuatan moral dalam menghadapi ketidakadilan.
“Selama penyakit ini masih menggerogoti, sulit berharap dunia Islam tampil sebagai kekuatan penekan yang konsisten dan berpengaruh di panggung global,” kata pengamat tersebut.
Situasi di Palestina hingga kini masih diwarnai kekerasan, blokade, dan krisis kemanusiaan. Sementara itu, upaya diplomatik internasional terus menghadapi kebuntuan, seiring kuatnya dukungan Amerika Serikat terhadap Israel di berbagai forum global.