SORONG, KASUARITV - Kelangkaan dan kejanggalan distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite memicu keresahan masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan fenomena penjual bensin eceran yang mulai menyembunyikan stok dagangan dari pinggir jalan, namun secara diam-diam menjualnya dengan harga fantastis hingga menembus Rp40.000–Rp50.000 per botol.
Masyarakat menilai lonjakan harga ini bukan lagi sekadar penyesuaian pasar, melainkan tindakan memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi (moral hazard). Selasa, (4/8/2026)
Poin Keluhan dan Respon Warga
Stok Disimpan di Dalam Rumah: Warga mendapati penjual eceran tidak lagi memajang botol bensin di depan toko. BBM baru dikeluarkan dari dalam rumah jika calon pembeli bertanya secara langsung.
Harga Tak Wajar: Di beberapa titik seperti daerah Aimas Jalur D dan depan Pasber, BBM eceran dilaporkan dijual mulai Rp20.000 hingga Rp50.000 per botol.
Alasan Takut Razia: Diduga kuat para pedagang tidak memajang stok secara terbuka karena khawatir ditindak atau dirazia oleh aparat berwenang.
Kritik Moral: Warga menyayangkan aksi spekulasi ini karena dinilai sangat memberatkan masyarakat kelas menengah ke bawah yang mendesak membutuhkan BBM.
Solusi Warga: Banyak warga mengimbau agar masyarakat menolak membeli dari eceran nakal dan lebih memilih mengantre di SPBU atau Pertashop resmi (seperti Pertamax/Pertalite seharga resmi Rp16.200/liter).
Dugaan Penyebab Di Lapangan
Selain aksi spekulasi dari oknum pengecer, beredar pula anggapan warga terkait pola distribusi di SPBU. Salah satu tanggapan warga menyebutkan adanya penyesuaian stok di tingkat SPBU untuk menghabiskan kuota BBM non-subsidi (Pertamax) sebelum mengalirkan kembali pasokan Pertalite.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan mengawasi jalur distribusi BBM serta menindak tegas oknum yang sengaja menimbun dan memainkan harga BBM eceran.
