Oleh Shamsi Ali Al-Kajangi Al-Nuyorki
Sudah banyak yang bersuara mengenai Board of Peace ini, khususnya keanggotaan beberapa negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, baik di dalam negeri maupun di dunia global. Secara umum keanggotaan negara-negara mayoritas Muslim di badan itu dinilai tidak lebih dari “pelengkap” dan “pembenaran” dari tujuan di balik pembentukannya. Mayoritas meminta agar keanggotaan negara-negara Muslim dibatalkan karena hanya akan semakin menguatkan cengkeraman penjajah dengan tindakan-tindakan kezholimannya.
Sementara mereka yang menyetujui negara-negara Mayoritas Muslim terlibat menggunakan slogan lama: husznuz zhonni (berprasangka baik) atas niat dari pemerintah negara-negara mayoritas Muslim itu. Tentu sebagian juga merasa “over confidence” dengan berdalih bahwa dengan keberadaan negara-negara Islam di dalamnya mereka akan semakin didengarkan oleh Amerika dan Israeli.
Sebagian lainnya cenderung menyalahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang selama ini diharapkan bisa berbuat, ternyata telah gagal dan mandeg. Lupa bahwa kegagalan demi kegagalan PBB menyelesaikan isu Palestina selama ini juga karena Amerika dengan hak vetonya di Dewan Keamanan. Kini dengan forum yang dikontrol secara mutlak, bahkan Amerika atau Trumplah yang menentukan siapa yang diajak dan/atau ditolak, akankah logis jika kepentingan Palestina akan dikedepankan?
Over Confident Diplomacy
Setelah Indonesia masuk menjadi anggota, beberapa diplomat senior menyampaikan “concerns” (kekhawatiran) dan reservasi mereka, d bahkan resistensi mereka untuk Indonesia terlibat. Selain individu-individu mantan diplomat senior seperti Dr. Dino Patti Djalal, juga organisasi ICWA yang merupakan organisasi non pemerintah yang menampung para ahli, akademisi, guru besar, politisi, pengamat yang memiliki perhatian terhadap isu-isu luar negeri. ICWA ini didirikan oleh mantan Menlu Ali Al-Attas, dan saat ini diketuai oleh Hamzah Thayeb, mantan Dubes di PBB, Australia dan beberapa negara lainnya.
Di sisi lain, Menlu Indonesia saat ini, Sugiono, dalam beberapa pernyataan mengatakan bahwa keterlibatan Indonesia ini merupakan bentuk upaya diplomasi dalam membantu bangsa Palestina merdeka. Sebuah pernyataan yang sangat labil dan tidak memiliki fondasi argumentasi yang solid. Karenanya pernyataan Menlu Sugiona dinila sebagai sekedar upaya mencari perlindungan dari “kecerobohan diplomasi yang tragis.
Dari sudut pandang manapun penampakan “self confidence” diplomasi oleh Dunia Islam, termasuk Indonesia, dalam forum ini justeru sebuah kegelian yang memalukan. Kita sadar bahwa dalam 75 tahun lebih dunia Islam telah gagal memperjuangkan Palestina dan masjid al-Aqsa. Dan kegagalan itu disebabkan karena mereka rela terjatuh dalam pelukan kontrol negara adi daya Amerika. Dunia Islam berhasil diporak porandakan sehingga tidak mampu membangun kesatuan sikap dan kebersamaan.
Kini dengan masuknya segelintir negara-negara Islam, logikah apa yang dipakai sehingga sangat parcaya diri? Apalagi dengan karakter Trump yang “bossy” menempatkan diri sebagak tuan. Sementara anggota-anggotanya bagaikan bocah-bocah yang senang jika pundaknya ditepuk. Runyamnya lagi, Netanyahu menjadi anggota Istimewa, satu-satunya Pemimpin yang bisa nantinya bisa mempengaruhi Trump melalui lobbi politik Yahudi di Amerika; AIPAC. Sehingga pernyataan Menlu bahwa Indonesia akan lebih leluasa berbuat untuk Palestina dengan menjadi anggota BOP adalah bentuk bualan yang tidak memiliki basis argumentasi yang sehat.
Dukungan tokoh-tokoh agama?
Yang juga runyam dan “deeply concerning” adalah adanya tokoh-tokoh Muslim yang ikut mendukung Indonesia menjadi anggota BOP. Kekhawatiran saya pribadi sebenarnya lebih dalam lagi (deeper) dari sekedar dukungan kepada keputusan RI menjadi anggota BOP.
Jika berbicara tentang hubungan Muslim-Yahudi, saya bukan seseorang yang baru dan asing, apalagi sekeda penonton atau pengamat. Saya telah membangun relasi antar agama, termasuk dengan Komunitas Yahudi sejak tahun 2001 lalu. Dan sejak itu pula saya mempelajari dan mengamati, di mana letak rahasia sehingga dunia ini terasa dikontrol oleh mereka. Padahal jumlah mereka di dunia ini hanya 15 hingga 16 juta orang. Bandingkan dengan umat ini yang mencapai sekitar 2 milyar. Dalam 10 tahun terakhir saja, antara 2010 hingga 2020, jumlah anggota Umat ini bertambah lebih 345 juta anggota. Menjadikan umat kini mencapai 25-26 persen dari total penduduk dunia.
Dalam perjalanannya saya menemukan bahwa dari jumlah sekitar 15-16 juta Yahudi itu mayoritasnya masih konsisten dengan ajaran Taurat mereka. Walaupun kita tahu telah banyak mengalami distorsi sepanjang perjalanan sejarahnya. Namun ada segelintir yang sejujurnya tidak peduli dengan agama dan hukum Taurat lagi. Mereka menjadikan agama sebagai kendaraan atau slogan untuk mencapai kepentingannya. Mereka inilah yang tergabung dalam kelompok yang disebut “Zionist”. Ideologinya disebut “zionisme”.’ Sebuah kelompok yang didirikan justeru oleh seseorang yang dikenal Marxist. Kelompok kecil Yahudi inilah yang punya kontrol di berbagai aspek kehidupan; khususnya ekonomi/keuangan dan media.
Ada banyak organisasi Yahudi yang beraliran Zionis ini. Dua di antaranya yang paling terkenal dan gencar melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Yaitu Jewish World Congress dan
American Jewish Council atau AJC. Namun AJC memiliki jaringan dan pergerakan yang lebih luas dan cepat. Di Amerika selain AJC, juga ada ADL (Anti Defamation League) dan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee).
AJC (American Jewish Council) lebih sering menampakkan diri sebagai organisasi yang bergerak di bidang hubungan antar agama (interfaith). Sehingga slogan yang dipakai adalah merekatkan hubungan antar pemeluk agama untuk Perdamaian dunia. Sebuah slogan yang memang indah dan mulia. Membangun hubungan yang baik demi terjadinya Perdamaian dunia.
Karena wajah “hubungan antar agama dan perdamaian” inilah saya pernah tertarik untuk ikut (setelah diajak dengan berbagai bujukan) menjadi anggota “Dewan Hubungan Muslim-Yahudi” AJC. Ketika itu saya tidak menyadari bahwa organisasi ini adalah Zionist bahkan perpanjangan tangan Israel. Dalam perjalanannya saya menyadari bahwa keberadaan saya di Dewan Penasehat Hubungan Muslim-Yahudi itu justeru dipandang sebagai “gangguan”. Hal itu karena saya selalu mendesak aga serangan Israel dihentikan ke Gaza. Bukan mengutuk Israel. Itupun dianggap tidak lagi sebagai posisi yang moderat. Saya akhirnya menarik diri dari keanggotaan Muslim-Jewish Advisory Council AJC.
Saya menuliskan ini untuk mengingatkan bahwa organisasi yang sama yang pernah mengundang Gus Dur dan memberikan penghargaan. Juga Yahya Staqub dan beberapa dosen muda dari Indonesi yang sempat heboh. Organisasi yang sama pernah mengundang Imam Besar masjid Istiqlal ke Amerika beberapa minggu untuk belajar keyahudian. Belakangan kita dihebohkan ketika ketuanya Ary Gordon dijadwalkan akan memberikan presentasi di hadapan peserta pengkaderan ulama masjid Istiqlal.
AJC telah berhasil berpenetrasi di beberapa universitas Islam, seperti UIN dan lain-lain. Organisasi ini juga berhasil melakukan pendekatan ke organisasi-organisasi Islam, seperti NU, Muhammadiyah, termasuk organisasi yang mereka sendiri anggap radikal seperti Wahdah Islamiyah, dan lain-lain.
Sebagian tokoh organisasi itu pernah meminta pendapat saya dan saya telah ingatkan.
Tujuan terutama AJC adalah mengupayakan “normalisasi” hubungan antara umat Islam dan Yahudi. Namun karena AJC adalah organisasi Zionist maka tujuan mereka yang absolute adalah normalisasi rasa resistensi Umat Islam kepada Israel. Pendekatan itu dilakukan dengan sangat persuasif di satu sis. Di sisi lain, mental inferioritas sebagian umat menjadikan mereka mudah terjatuh dalam perangkapnya. Inilah yang saya maksud dengan Kekhawatiran saya terhadap dukungan sebagian tokoh-tokoh Islam itu justeru lebih dalam lagi ketimbang sekedar dukungan kepada BOP.
Intinya banyak benang kusut yang perlu diluruskan di balik keanggotaan Indonesia di Board of Peace. Dan lebih khusus lagi, dukungan sebagian tokoh Islam itu. Teka-teki terlalu banyak. Husnuz zhonna bisa saja. Tapi realita di lapangan jelas, keanggotaan Indonesia hanya semakin menguatkan tujuan penjajahan. Sebuah sikap yang anti Konstitusi RI.
Manhattan, 4 Pebruari 2026
Poetra Kajang, a Proud New Yorker