Anthony Budiawan- Managing Director Political Economy and Public Studies (PEPS)
Ringkasan Eksekutif
Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir, Indonesia secara konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Capaian ini tampak impresif. Namun, di tingkat masyarakat, pertumbuhan tersebut tidak terasa sepenuhnya. Kesejahteraan tidak meningkat secara merata, kualitas pendapatan tenaga kerja stagnan, dan daya saing ekonomi jangka panjang tetap rapuh.
Masalah utamanya bukan pada berapa cepat ekonomi bertumbuh. Tetapi, bagaimana pertumbuhan terbentuk.
Analisis Input–Output terhadap struktur industri Indonesia menunjukkan bahwa perekonomian
nasional berkembang secara dangkal. Keterkaitan antarsektor lemah, ketergantungan pada impor tinggi, dan aktivitas ekonomi didominasi oleh sektor primer dan manufaktur dengan teknologi rendah. Akibatnya, setiap kenaikan permintaan akhir—baik dari konsumsi domestik maupun ekspor—tidak menghasilkan efek pengganda (multiplier effect) yang tinggi di dalam negeri. Nilai tambah bocor ke luar negeri melalui impor input (produk) antara, sementara penciptaan lapangan kerja sebagian besar berada di sektor dengan produktivitas rendah.
Hasil kajian empiris menunjukkan bahwa pada 2005, ekonomi Indonesia secara struktural baru mencapai sekitar 70 persen dari potensinya, yang seharusnya dapat dicapai apabila struktur industrinya lebih terintegrasi. Artinya, sekitar 30 persen PDB hilang karena arah kebijakan pembangunan industri dan perdagangan tidak tepat.
Revisited 2026
Enam belas tahun setelah kajian ini pertama kali ditulis, pertanyaan yang diajukan saat itu ternyata belum kehilangan relevansinya. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut kini terasa semakin tajam: apakah Indonesia benar-benar bergerak menuju status negara maju, atau hanya berputar dalam lingkaran pertumbuhan yang tampak sehat tetapi rapuh di dalam?
Secara nominal, perekonomian Indonesia telah tumbuh besar. PDB meningkat, pendapatan per kapita naik, dan Indonesia kini diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas. Tetapi, jika dilihat lebih dekat, fondasi struktural ekonomi nasional hampir tidak berubah. Ketergantungan pada komoditas tetap kuat, basis industri manufaktur antara tidak berkembang seperti yang diharapkan, dan produktivitas tenaga kerja bergerak lambat.
Alih-alih mengalami lompatan industrial (industrial take-off), Indonesia justru menunjukkan gejala stagnasi struktural yang berlangsung lama dan tidak disadari.
