![]() |
| Foto: Laki Laponto |
KASUARITV.COM _ Anak-anak adat Sulawesi Tenggara, sejarah memanggil kita kembali. Murhum–Haluoleo tidak mewariskan keberanian untuk diam. Ia mewariskan kesadaran persatuan: bahwa penjajahan—dalam bentuk apa pun—hanya bisa dikalahkan oleh empat pilar yang berdiri bersama: Wuna, Tolaki, Moronene, dan Buton.
Hari ini, penjajahan tidak lagi datang dengan senjata. Ia datang berkedok MoU, bersembunyi di balik meja rapat, izin abu-abu, dan pembiaran hukum. Tanah adat dirampas mafia tambang, hak rakyat dihisap mafia solar dan BBM subsidi, sementara keadilan dikubur oleh kesepakatan yang lebih melindungi modal ketimbang manusia. Luka ini tidak memilih suku—ia melukai keempat pilar sekaligus.
Jika hukum negara gagal memberi kepastian dan keberpihakan, maka putra-putri adat Wuna, Tolaki, Moronene, dan Buton wajib berdiri di depan—bukan dengan amarah, tetapi dengan ketegasan kolektif. Berdiri menjaga tanah, laut, dan kehidupan rakyat. Berdiri menagih keadilan dengan cara bermartabat: mengorganisir suara bersama, mengawal kasus lintas wilayah, membuka fakta, dan menekan kekuasaan agar kembali ke jalurnya.
Ini bukan ajakan anarki. Ini tanggung jawab sejarah.
Putra-putri adat tidak dilahirkan untuk merusak, tetapi untuk menjaga keseimbangan ketika hukum melemah. Tidak untuk menghakimi, tetapi untuk mengawal kebenaran ketika keadilan dipermainkan. Tidak untuk menggantikan negara, tetapi untuk mengingatkan negara bahwa ia berdiri di atas darah, keringat, dan persatuan para leluhur—bukan di atas MoU yang membungkam nurani.
Usir penjajahan—bukan dengan kekerasan, tetapi dengan persatuan empat suku.
Hentikan perampasan—bukan dengan senjata, tetapi dengan keberanian kolektif.
Lawan ketidakadilan—bukan dengan dendam, tetapi dengan kebenaran yang tak bisa dibungkam.
Jika MoU dijadikan tameng kejahatan, maka adat empat suku harus menjadi cermin nurani.
Jika hukum memilih diam, maka suara Wuna–Tolaki–Moronene–Buton harus berbicara serentak.
Anak-anak adat, saatnya berdiri bersama.
Bukan untuk menebar ketakutan, tetapi untuk mengembalikan keadilan ke rumahnya— di tanah adat Sulawesi Tenggara, dijaga oleh empat pilar yang bersatu
Leluhur Kita Tak Pernah Gentar, Melawan Penjajah Bersenjata Lengkap,
redaksi kasuaritv.com
