Sidoarjo || KASTV - Potret kusam pendidikan dasar kembali terekam di sudut Kabupaten Sidoarjo. MI Darussalam Sidorejo, sebuah madrasah di Kecamatan Krian, kini menjadi simbol bisu atas ketimpangan infrastruktur pendidikan. Bertahun-tahun berdiri tanpa renovasi berarti, bangunan ini bukan lagi sekadar ruang belajar, melainkan ancaman yang mengintai keselamatan siswa setiap harinya.
Kondisi fisik madrasah berlantai dua ini kian memprihatinkan. Jika di lantai dasar dinding yang kusam dan retak masih dianggap pemandangan biasa, pemandangan di lantai dua justru mengundang ngeri. Lantai kayu yang menjadi tumpuan aktivitas belajar kini telah usang, rapuh, bahkan berlubang di berbagai titik.
Setiap langkah kaki siswa di sana seolah menjadi taruhan. Keterbatasan anggaran selalu menjadi alasan klasik yang membentengi upaya perbaikan, sementara struktur bangunan terus digerus usia tanpa intervensi yang nyata.
Kondisi MI Darussalam Sidorejo adalah paradoks di tengah gegap gempita program peningkatan mutu pendidikan nasional. Di saat pemerintah pusat maupun daerah mendengungkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai pilar utama, kenyataan di Sidorejo justru menunjukkan jurang lebar antara rencana di atas kertas dengan realitas di lapangan.
Sangat ironis ketika sebuah institusi yang memikul tanggung jawab moral dan keilmuan harus berjuang bertahan hidup di gedung yang nyaris kehilangan kelayakannya. Masyarakat sekitar bahkan mulai melontarkan satire pahit: apakah gedung ini sedang dipersiapkan sebagai sarana pendidikan atau sedang menunggu waktu untuk berubah status menjadi cagar budaya karena saking lamanya tak tersentuh perbaikan.
Persoalan ini bukan lagi tentang mencari siapa yang alpa, melainkan tentang keberpihakan dan rasa kemanusiaan. MI Darussalam Sidorejo bukan sekadar susunan bata dan kayu yang menua; ia adalah rumah bagi harapan anak-anak yang menggantungkan cita-cita mereka di sana.
Membiarkan kondisi ini berlarut-larut sama saja dengan membiarkan risiko keselamatan anak bangsa berada di ujung tanduk. Jika kepedulian tak kunjung datang, yang dipertaruhkan bukan hanya tegaknya struktur gedung, melainkan masa depan generasi penerus yang seharusnya belajar dengan rasa aman, bukan rasa waswas.(*)
