MALUKU- Testimoni korban peristiwa terbakarnya speedboat Bella 72 yang dirilis media-media Maluttv, Ternate Pos, Malutsatu, Liputan Malut dll seolah membuka kotak pandora siapa sebenarnya Sherly Tjoanda yang selama ini publik Maluku utara khususnya dan Indonesia umumnya mengenalnya.
Sherly seolah hidup dalam dua sisi.Di TikTok, Sherly Tjoanda adalah Gubernur yang sempurna. Empatik, humanis, penyayang rakyat. Kebijakannya soal RLTH, beasiswa S1, dan gratis uang sekolah SMA di-blow up dengan backsound haru dan filter estetik.
Tapi Tragedi Speedboat Bella 72 membuka kotak pandora. Di balik konten-konten itu, publik kini melihat sisi lain Sherly yang jauh dari indah.
Teori Victimhood: Dari Duka Menjadi Modal Politik
Dalam ilmu komunikasi politik, ada teori Victim Capitalization - mengubah status korban menjadi modal elektoral.
Sherly dikenal publik Maluku Utara pasca-tragedi 12 Oktober 2024. Perempuan Tionghoa, pendatang dari Ambon, yang kakinya terbakar, ditinggal mati suaminya, Benny Laos, dalam ledakan speedboat mewah miliknya sendiri.
Narasi yang dibangun sangat rapi: janda yang dirundung duka, namun tegar melanjutkan visi mulia sang suami yang selama ini menyumbang pembangunan masjid dan gereja di seluruh Malut.
Desain politik itu berhasil. Dengan narasi korban yang empatik, Sherly - yang berpasangan dengan Sarbin Sehe - menang satu putaran, mengalahkan sultan Tidore dan bupati dua periode.
Teorinya terbukti: Empati publik bisa dikonversi menjadi suara. Sherly menjadi simbol yang patut dikasihani, terutama di mata ibu-ibu dan milenial.
Setelah dilantik, ia melanjutkan dramaturgi itu. Kebijakan populisnya viral di TikTok.
Teori Kepribadian Krisis: Sifat Asli Muncul Saat Berkonflik
Namun psikologi kepribadian punya dalil emas: Sifat asli seseorang tidak terlihat saat ia sedang memimpin upacara atau membuat konten. Sifat asli terlihat saat ia menghadapi krisis yang merugikan dirinya.
Teori Dispositional Authenticity dari psikolog Michael Kernis menyebut, keaslian karakter akan tereksplor pada titik klimaks - ketika seseorang dihadapkan pada konflik antara kepentingan moral dan kepentingan pribadi.
Dan titik klimaks itu adalah para korban Bella 72.
Apa kata mereka di media?
> "Biaya rumah sakitnya, itu biaya sendiri. Sherly tidak menanggungnya. Padahal saya ditugaskan partai untuk kampanyekan Bapak BL. Katanya mau kasih pekerjaan, sampai sekarang moco. Dia berbohong."
> "Untuk kumpul dana perawatan, saya terpaksa harus ngojek."
> "Tangan saya patah, dipasang platina, biaya sendiri."
Mereka bukan orang lain. Mereka adalah tim pemenangan suaminya sendiri. Mereka terluka karena berjuang untuk kepentingan politik keluarga Sherly. Mereka dijanjikan: pekerjaan, rumah, modal usaha, jaminan masa depan anak-anak yatim yang ditinggalkan.
Hingga hari ini, janji itu moco - tidak ada.
Kekayaan 700 Miliar vs Biaya Berobat Ngojek
Inilah ironi yang paling telanjang.
Berdasarkan LHKPN, Sherly Tjoanda adalah salah satu Gubernur terkaya di Indonesia, dengan harta warisan mendiang suaminya yang fantastis, lebih dari Rp 700 miliar.
Pertanyaan kritisnya sederhana: Mengapa seorang Gubernur dengan harta Rp 700 miliar tidak mampu membayar biaya berobat timnya yang patah tulang? Mengapa ia membiarkan mereka ngojek untuk biaya kontrol ke Jakarta?
Jawabannya hanya satu dalam teori Impression Management Erving Goffman:
Apa yang kita lihat di TikTok adalah “front stage" - panggung depan, tempat aktor politik menampilkan persona ideal. Ramah, dermawan, menangis bersama rakyat.
Tapi “back stage" - panggung belakang, saat kamera mati dan tidak ada like, yang terlihat adalah kalkulasi dingin.
Korban Bella 72 adalah liability di back stage. Mereka tidak menghasilkan engagement. Mereka mengingatkan publik pada tragedi yang seharusnya dilupakan dengan konten-konten humanis.
Maka mereka ditinggalkan. Diberi penghubung yang kemudian menghilang. Diberi janji lewat ajudan: "Ibu lagi sibuk, nanti cari waktu."
Empati Politis vs Empati Otentik
Inilah pembedanya.
Empati Otentik adalah empati yang dibayar dengan pengorbanan pribadi. Benny Laos menyumbang masjid dan gereja dengan uangnya sendiri jauh sebelum jadi calon.
Empati Politis adalah empati yang dibayar dengan uang negara dan konten. Gratiskan uang sekolah pakai APBD, lalu di-TikTok-kan seolah itu uang pribadi. Itu bukan empati, itu investasi pencitraan.
Kasus Bella 72 membuktikan: ketika empati harus dibayar dengan uang pribadi dan tanggung jawab moral pribadi sebagai pemilik kapal, empati itu tidak ada.
Jika kepada timnya sendiri yang berdarah-darah untuk suaminya saja ia abai, bagaimana kepada rakyat Maluku Utara yang tidak ia kenal?
Sherly Tjoanda memang Gubernur yang baik di TikTok. Tapi di mata korban Bella 72 yang kakinya pincang dan tangannya ber-platina, ia jauh dari indah.
Karena pada akhirnya, TikTok bisa memfilter wajah, tapi tidak bisa memfilter watak.