KENDARI, KASUARITV— Fenomena antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Kendari kian memicu sorotan publik. Ketegangan narasi kini memuncak antara alasan faktor global yang dilontarkan pemerintah daerah dan tuduhan sengkarut pengelolaan di tingkat lokal.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, sebelumnya menyampaikan bahwa salah satu pemicu dinamika pasokan BBM di daerah adalah dampak rentetan dari ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang mengganggu jalur logistik minyak mentah dunia.
Namun, narasi tersebut memantik reaksi keras dari aktivis daerah yang juga mantan Sekjen UHO sekaligus Jenderal Lapangan aksi 'September Berdarah', Umul Loga. Menurutnya, mengambinghitamkan konflik Selat Hormuz adalah bentuk pengalihan dari masalah inti di lapangan, yakni tingginya konsumsi BBM di sektor pertambangan serta maraknya praktik mafia BBM di Sulawesi Tenggara.
Kondisi di lapangan semakin memperkuat keraguan warga terhadap isu kelangkaan pasokan. Di saat warga harus mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan BBM di SPBU, keberadaan pengecer BBM eceran maupun Pertamini di sekitar depo dan SPBU justru menjamur dengan stok yang terbilang melimpah.
"Sangat aneh jika narasi yang dijual adalah kelangkaan akibat Selat Hormuz, tapi di depan mata kita pengecer BBM begitu menjamur dan seolah dipelihara," tegas Umul. Jumat, (18/9/2026)
Lebih jauh, muncul dugaan kuat adanya keterlibatan oknum karyawan atau internal pihak penyalur yang bermain mata dengan para mafia serta pelangsir BBM. Praktik penimbunan dan penyedotan BBM bersubsidi ini diduga sengaja dibiarkan untuk meraup keuntungan pribadi di tengah kesulitan masyarakat umum.
Masyarakat dan pengamat daerah mendesak aparat penegak hukum (APH) serta pihak Pertamina untuk tidak tinggal diam dan melakukan evaluasi total. Pengawasan tidak boleh hanya formalitas di tingkat SPBU, tetapi harus menyasar aliran distribusi hingga ke para pengecer ilegal.
Publik menuntut tindakan tegas berupa sanksi keras dan proses hukum apabila terbukti ada oknum internal yang memfasilitasi atau 'memelihara' jaringan pengecer dan mafia BBM di Kota Kendari.
redaksi
