Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki
Sejak kemenangannya pada pemilihan walikota New York bulan Nopember lalu, bahkan sejak memenangkan pemilihan awal (Primary election) Juni lalu, nama Zohran Mamdani melejit dikenal khalayak ramai, tidak saja di Kota New York dan Amerika, tapi di seluruh penjuru dunia. Warga pendatang asal Afrika keturunan India ini mencatat sejarah memenangkan dengan mengalahkan seorang calon kuat, mantan Gubernur, yang didukung oleh tokoh-tokoh partai dan pemilik modal (oligarki). Dengan kemenangannya di pemilihan nopember lalu terjadi catatan sejarah sebagai Walikota imigran dari Asia Selatan, termuda, dan yang penting adalah sebagai Muslim pertama.
Sebagai salah seorang yang membersamai perjalanan panjang perjuangan Zohran memenangkan pemilihan walikota New York ini, saya ikut merasakan pahit getirnya jalan-jalan yang dilalui. Dari penilaian sebelah mata karena dianggap kurang pengalaman, ke pencalonannya yang berawal dengan hanya 1% popularitas, hingga resistensi yang dihadapinya karena keyakinan dan agamanya sebagai Muslim. Ditambah lagi karena konsistensi Zohran dalam membela hak-hak mereka yang terzholimi dan termarjinalkan, khususnya bangsa Palestina. Sungguh perjalanan itu penuh duri (thorny) dan memerlukan keberanian, motivasi tinggi dan konsistensi yang kokoh tak tergoyahkan.
Kini semua itu telah dilalui dan dengan izin Penguasa alam semesta, Zohran telah resmi terpiliih sebagai walikota (Mayor elect). Sejak terpilihnya, Zohran telah membentuk tim transisi sejumlah 400 orang yang diamanahi membantu merancang kebijakan, sekaligus ikut merekomendasi calon-calon pejabat yang akan duduk di pemerintahannya. Saya salah seorang yang mendapat kehormatan terpilih sebagai anggota tim transisi di bidang immigrant justice atau keadilan bagi warga imigran. Sebuah tugas yang tidak mudah mengingat saat ini Pemerintahan Donald Trump memperlakukan warga imigran secara tidak terhormat dan seringkali di luar batas hukum dan Konstitusi.
Sejak terpilihnya, Zohran sendiri telah melakukan berbagai langkah kongkrit untuk pembenahan administrative maupun langkah-langkah untuk mewujudkan janji-janji politiknya, khususnya dalam kehidupan yang lebih terjangkau (affordability). Setelah menetapkan Wakil Walikota pertama dan Kepala Staffnya, Zohran juga telah memutuskan untuk tetap mempertahankan Jessica Tish sebagai Kepala Kepolisian. Walau sebagian ada yang kurang setuju dengan Tish sebagai Kepala Kepolisian, penetapan ini dinilai bijak oleh sebagian kalangan. Bukan saja sebagai respon kepada resistensi sebagian Komunitas Yahudi kepada Zohran. Tapi yang terpenting penetapan Tish didasarkan kepada capaian dia sebagai Kepala Kepolisian (NYPD Commissioner) selama ini.
Selain Wakil Walikota, Kepala Staff (chief of staff) dan kepala kepolisian, Zohran juga telah menetapkan, di antaranya, kepala Pemadam Kebakaran New York (NYFD). Penetapan ini juga menjadi perbincangan luas, termasuk Elon Musk yang ikut mengomentari. Mungkin Elon Musk kurang kerjaan sehingga sibuk memikirkan siapa yang harusnya menjadi kepala pemadam kebakaran di Kota New York. Sekain itu ada beberapa Komisioner (Kepala department) di antaranya yang baru adalah Commissioner for Economic Justice. Departemen baru ini dinilai sebagai embodiment komitmen Zohran dalam pemerataan dan keadilan sosial.
Dua Jumat lalu, 19 Desember, saya hadir di sebuah acara Komunitas Bangladesh; Bhalo (Bangladeshi Humanitarian and Leadership Outreach). Di acara itu Zohran menjadi bintang tamu. Kebetulan saya dan Zohran duduk berdampingan di satu meja. Di tengah-tengah hiruk pikuknya acara malam itu, di mana banyak pejabat kota maupun negara bagian New York yang hadir, termasuk Wakil Gubernur New York, saya sempat berbisik kepada sang Walikota: “Alhamdulillah, saya sangat berbahagia dan bangga dengan terpilihnya saudara seiman saya menjadi Walikota. Tentu selain doa, saya ingin memastikan jika kita Komunitas Muslim akan mengawal dan memastikan bahwa pemerintahan Kota New York di tangan saudara saya berhasil”.
Beliau mengambil tangan saya, memegang erat-erat dan berkata: “Thank you Imam Shamsi. Saya menerima ini sebagai pesan dan amanah, tidak saja dari imam saya, tapi dari Allah SWT. Mohon doakan saya”.
Pada kesempatan itu kami tidak banyak bicara. Selain karena beliau sibuk melayani tamu-tamu yang berebutan untuk berfoto, walau dari kejauhan. Juga karena kami tetap harus menghormati mereka yang sedang menyampaikan pidato. Saya termasuk yang menyampaikan pidato pembukaan singkat malam itu. Dalam sambutan itu saya menekankan lagi bahwa warga Kota New York harus menjalin kebersamaan dan persatuan. Kota New York dikenal dengan “jembatan-jembatan” yang tidak saja menghubungkan antara Boroughs (kecamatan). Tapi menghubungkan antara sesama warga di Kota New York. Dan Walikota kita Zohran Mamdani adalah Walikota untuk semua warga Kota New York yang kita cintai.
Kini dua hari lagi, tepatnya di hari
Kamis, tanggal 1 Januari dini hari, Zohran akan resmi dilantik menjadi Walikota Dunia, New York City. Sebuah jabatan yang terhormat. Konon kabarnya menjadi Walikota New York merupakan jabatan terpenting kedua setelah Presiden/Wakil Presiden Amerika. Wajar saja Michael Bloomberg ketika itu pernah menyampaikan bahwa selain sebagai pebisnis, dia juga ingin menduduki salah satu dari tiga posisi: Presiden Amerika, Walikota New York, Sekjen PBB.
Akhirnya mari kita doakan semoga Zohran Mamdani dijaga selalu oleh Allah dari segala bahaya. Dan semoga Allah mudahkan dalam menjalankan amanah Tuhan dan warga Kota New York. Saya yakin, sebagaimana banyak yang mencoba mengganjal kemenangannya, juga ada pihak-pihak yang ingin menggagalkan pemerintahannya. Seorang prominent New Yorker dalam sebuah Wawancara pernah berkata: “Saya tidak khawatir dengan kemenangan Zohran. Saya justeru lebih khawatir jika dia berhasil sebagai walikota”.
Pernyataan tokoh zionis Yahudi itu, bagi saya, jelas sebuah penilaian bahwa kemenangan dan keberhasilan Zohran dianggap juga sebagai kemenangan dan keberhasilan Komunitas Muslim. Karenanya mereka harus mengupayakan semua cara untuk menggagalkannya.
Karenanya dalam khutbah-khutbah dan ceramah saya akhir-akhir ini Saya ingatkan Komunitas Muslim untuk mengawal dan membantu keberhasilan Walikota Zohran dalam memimpin Kota New York. “Kesuksesannya adalah kesuksesan kita dan kegagalannya boleh jadi dilihat sebagai kegagalan kolektif kita”.
Akhirnya, sebagaimana motto pemerintahan Zohran Mamdani: “A New Era for New York City”, Komunitas Muslim di Kota New York juga memasuki era baru. Kita memasuki era keterbukaan identitas dari persembunyian panjang di bawah bayang-bayang kekhawatiran dan ketakutan pasca 9/11. Semoga!
Udara Texas-New York, 29 Desember 2025.
Anggota Tim Transisi Mamdani 2025.
